98 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Arief Rohman Ingatkan Generasi Milenal, Menulis Untuk Keabadian

BLORA, Lingkar.co – Dunia mengakui, Pramoedya Ananta Toer telah menjadi penulis besar. Banyak karya yang menginspirasi, dan bahkan kalimat bijak tercipta dari Pram, nama populernya.

Bupati Blora, Arief Rohman pun mengingatkan generasi milenial untuk meneladani dan menggali pemikiran besar Pram. Penulis kondang yang lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah.

“Tepat 98 tahun yang lalu, yakni 6 Februari 1925 telah lahir tokoh besar di Blora. Seorang sastrawan yang karyanya diterjemahkan hingga 40 bahasa. Ia adalah Pramoedya Ananta Toer,” kata Arief di rumah dinasnya, Senin (6/2/2023).

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

Gus Arief, sapaan Arief Rohman mengingatkan, Pram berhasil mencari perhatian dunia lewat tulisan. Karya Pram begitu laris tak lekang oleh zaman.

“Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya menjadi novel terbaik Indonesia,” papar Gus Arief.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Sejurus dengan hal itu, Gus Arief pun menyampaikan harapan, semoga karya Pramoedya Ananta Toer selalu abadi menjadi rujukan sastra Indonesia, bahkan dunia.

Png-20230831-120408-0000

Gus Arief juga meminta agar generasi milenial terus belajar memanfaatkan perkembangan teknologi dengan tepat sebagaimana pesan Pram. Jangan sampai generasi terbaru tercerabut dari sejarah.
Berikan Cinderamata : bupati Arief Rohman berikan kaos sebagai cinderamata kepada Profesor asal Jepang, Noriaki Oshikawa yang tertarik menelusuri jejak kehidupan sastrawan kelas dunia asal Blora, Pramoedya Ananta Toer. Foto. Dokumentasi

Gus Arief juga meminta agar generasi milenial terus belajar memanfaatkan perkembangan teknologi dengan tepat sebagaimana pesan Pram.

Jangan sampai generasi terbaru tercerabut dari sejarah.

Gus Arief lantas mengutip tulisan Pramoedya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

“Mari anak-anak muda, jangan lelah untuk terus belajar, sampaikan gagasan, pemikiran kalian lewat tulisan,” ajaknya.

Sebagaimana banyak diketahui, Pram adalah salah satu sastrawan Indonesia. Ia lahir dari keluarga guru.

Sebagai sastrawan ideologis, nama Pram pernah masuk nominasi penghargaan Nobel Sastra.

Bahkan, karena ideologi kritisnya, Pram juga pernah mengalami getirnya hidup 13 tahun dalam penjara semasa penguasa Orde Baru, Presiden Soeharto. (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *