Site icon Lingkar.co

Alvia Nur Vida, Pelatih Tari yang Menemukan Bahasa Perasaan Lewat Gerak

Alvia Nur Vida, Guru Tari Sanggar Tresna Budaya. (dok Istimewa)

Alvia Nur Vida, Guru Tari Sanggar Tresna Budaya. (dok Istimewa)

Lingkar.co – Bagi Alvia Nur Vida, menari bukan sekadar rangkaian gerak yang mengikuti irama. Di balik setiap langkah dan ayunan tangan, ada perasaan yang dilepas, ada emosi yang ditata. Itulah yang membuat perempuan berusia 31 tahun ini bertahan di dunia tari sejak usia kanak-kanak hingga kini menjadi pelatih di Sanggar Tari Tresna Budaya.

Vida sapaan akrabnya mengenal seni tari sejak kecil. Ia mulai menari sejak taman kanak-kanak, sekitar usia lima tahun, setelah diperkenalkan oleh orang tuanya. Sejak saat itu, tari menjadi bagian dari kesehariannya hingga menginjak bangku SMA.

“Dulu pernah sempat vakum nari, terus rasanya kayak ada yang hilang. Akhirnya mulai nari lagi, karena melalui gerakan tari itu, saya bisa menyalurkan perasaan,” kata Vida.

Perjalanan Vida di dunia tari tidak selalu mulus. Ia sempat vakum cukup lama saat SMP dan SMA karena tidak adanya dukungan kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah. Masa vakum itu membuatnya semakin menyadari bahwa tari bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan batin.

Pengalaman tampil dan melatih datang silih berganti. Meski tak banyak prestasi lomba yang ia raih, Vida pernah mendapat kepercayaan mewakili Jawa Tengah dalam kegiatan kebudayaan ke Kalimantan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Kini, Vida lebih banyak mengabdikan dirinya sebagai pelatih tari. Ia kerap melatih siswa-siswi sekolah dalam berbagai kegiatan berbasis acara, seperti gelar karya dan tugas akhir. Sejumlah sekolah yang pernah ia dampingi di antaranya SMA Loyola Semarang, SMA Nasima, hingga SMA Negeri 3 Semarang.

“Kalau ngelatih sih seringnya by event. Jadi setelah event selesai, ya selesai,” ujarnya.

Sejak bergabung sebagai pelatih di Sanggar Tari Tresna Budaya, Vida merasakan suasana yang berbeda. Ia menilai kekuatan utama sanggar ini terletak pada rasa kekeluargaan antaranggota.

“Yang saya rasakan itu teman-temannya guyub. Enggak cuma pelatih yang kerja, tapi teman-teman yang dewasa juga ikut membantu,” tuturnya.

Dalam proses melatih, Vida mengaku tidak memasang target tinggi bagi para peserta, terutama pemula. Ia memilih pendekatan bertahap, menyesuaikan metode dengan usia dan kemampuan masing-masing penari.

“Di sini tujuannya buat belajar. Jadi tidak harus langsung bisa. Kita pelan-pelan bertahap,” katanya.

Di tengah anggapan bahwa budaya mulai ditinggalkan generasi muda, Vida justru melihat hal sebaliknya. Menurutnya, seni tari masih hidup dan terus berkembang, termasuk di Kota Semarang.

“Kalau di teman-teman yang masih berkesenian, budaya itu masih tetap berjalan. Sanggar-sanggar juga tambah banyak,” ucapnya.

Bagi Alvia Nur Vida, melatih tari bukan sekadar mengajarkan teknik. Ia ingin menghadirkan ruang aman bagi anak-anak muda untuk belajar mengenali diri, mengekspresikan perasaan, dan tetap terhubung dengan budaya melalui gerak. ***

Exit mobile version