Site icon Lingkar.co

Bendungan Diduga Jadi Pemicu, Rumah Warga di Jepon Blora Rusak Parah

Rumah warga di Jepon, Blora rusak parah akibat tanah ambles. Foto: Istimewa.

Lingkar.co — Pergerakan tanah di Dukuh Kemiri RT 02 RW 01, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, menyebabkan kerusakan parah pada empat rumah warga. Tanah dilaporkan ambles hingga dua meter, diduga dipicu oleh keretakan pada sayap bendungan yang berada tak jauh dari permukiman.

Salah satu warga terdampak, Suparjan, mengungkapkan bahwa pergerakan tanah telah terjadi selama sekitar satu minggu, dengan kondisi terparah dalam tiga hari terakhir.

“Longsor sudah satu minggu, paling parah tiga hari terakhir sampai bagian belakang rumah dan kamar mandi terbawa,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, pergerakan tanah terjadi terus-menerus, baik pagi, siang, maupun malam hari. Dampaknya mulai terasa beberapa hari lalu ketika bangunan rumah mulai retak, disusul genteng yang berjatuhan.

“Pagi, siang, malam terus bergerak. Empat hari lalu mulai terasa retak, lalu genteng mulai berjatuhan karena tanah terus bergerak,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Suparjan dan keluarganya khawatir, terutama terhadap keselamatan anak-anak. Ia bahkan sempat menjaga jarak dari rumah untuk menghindari kemungkinan tertimpa reruntuhan.

Menurutnya, penyebab utama pergerakan tanah diduga berasal dari bendungan dan saluran irigasi di belakang rumahnya yang sudah tidak berfungsi dengan baik.

“Sayap bendungan dan irigasi sudah tidak berfungsi. Air mengikis tanah sedikit demi sedikit sampai akhirnya menggerus pondasi rumah,” jelasnya.

Suparjan mengaku telah dua kali melakukan perbaikan rumah, namun kerusakan terus berulang akibat tanah yang masih bergerak. Ia juga menyayangkan keberadaan bendungan yang dibangun sekitar delapan tahun lalu, yang justru dinilai memperparah kondisi.

“Dulu sebelum ada bendungan memang ada longsor, tapi kecil hanya di bantaran kali dan tidak sampai berdampak ke rumah. Sungainya juga tidak selebar sekarang,” ungkapnya.

Dari total empat rumah terdampak yang dihuni empat kepala keluarga, sebagian warga telah lebih dulu mengungsi. Suparjan menjadi salah satu yang terakhir meninggalkan rumahnya dan kini mengungsi ke rumah kerabat di Desa Brumbung.

“Saya sekarang mengungsi ke rumah simbah di Brumbung,” katanya.

Warga mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa. Namun hingga kini belum ada penanganan langsung di lokasi.

“Sudah kami laporkan ke pemerintah desa, katanya sudah diteruskan ke dinas terkait. Tapi soal prosedur dan tindak lanjutnya kami belum tahu,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version