Lingkar.co – Banjir dan tanah longsor menerjang hampir seluruh wilayah Kabupaten Pati. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat, 19 dari 21 kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi sejak hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan hujan berintensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) memicu banjir dan longsor di 19 kecamatan di Pati.
“Adapun jumlah desa (yang terdampak) mencapai 91 desa dari 19 kecamatan,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Pati, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Tlogowungu, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, Pucakwangi, Jakenan, Sukolilo, Gunungwukal, Gembong, Trangkil, dan Cluwak.
Martinus menyebut Kecamatan Pati Kota menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 14 desa terendam. Disusul Kecamatan Juwana dan Dukuhseti yang masing-masing mencatat 10 desa terdampak.
Sementara itu, Bupati Pati Sudewo menjelaskan banjir dipicu hujan lebat yang berlangsung lama dan diperparah oleh kondisi sungai yang mengalami pendangkalan.
“Banjir dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung lama, diperparah oleh pendangkalan sungai, tumpukan lumpur, serta akar bambu yang menghambat aliran air,” ujarnya saat meninjau banjir pada Senin (12/1/2026).
Ia menambahkan, sejumlah jembatan dengan posisi rendah turut memperlambat arus air sehingga memicu luapan dan jebolnya tanggul.
Untuk penanganan awal, Pemkab Pati telah mengerahkan seluruh alat berat guna membersihkan lumpur dan memperkuat tanggul. Ke depan, upaya akan difokuskan pada normalisasi aliran sungai guna mengurangi risiko banjir susulan.
Sudewo juga mengimbau masyarakat berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan.
“Masyarakat kami imbau tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat aliran air,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama rombongan meninjau lokasi banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Selasa (13/1/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, termasuk aktivitas pendidikan.
“Kita memastikan masyarakat kita ini openi, kebutuhan pokok kita salurkan termasuk jangan sampai masyarakat kita nanti tidak bisa melakukan aktivitas terutama anak-anak sekolah, kebutuhan bahan pokok,” ujar Luthfi.
