Lingkar.co – Petani padi di pesisir Pekalongan Utara mulai diperkenalkan dengan dengan digital farming atau pertanian dengan basis aplikasi digital.
Sedikitnya telah tersedia area seluas tiga hektare sebagai lahan percontohan atau demplot berbasis aplikasi digital.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengatasi tingginya kadar garam di lahan pesisir yang kerap mengakibatkan penurunan produktivitas panen padi dan bahkan gagal panen.
Pertanian dengan teknologi digital farming dan sistem bioremediasi (bakteri, jamur, alga) kini mulai diperkenalkan sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan bekas rob.
Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi petani di wilayah terdampak intrusi air laut, yakni tingginya kadar salinitas tanah yang berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian.
Asisten Manajer Unit Pengembangan UMKM Bank Indonesia Tegal, Muhammad Abror Widigdo, menjelaskan bahwa pihaknya turut memfasilitasi pembuatan demplot seluas tiga hektare berbasis aplikasi digital.
Ia bilang, teknologi tersebut memungkinkan petani memantau kondisi tanaman secara lebih akurat dan real-time.
“Bank Indonesia memfasilitasi pembuatan demplot seluas tiga hektare berbasis aplikasi digital untuk memantau kondisi tanaman secara akurat,” jelasnya, Rabu (8/4/2026).
Ia mengungkapkan, selain difungsikan untuk produksi konsumsi, sebagian lahan tersebut juga diproyeksikan menjadi pusat perbenihan padi biosalin unggul.
Hal ini, kata dia, bertujuan untuk menjamin ketersediaan bibit yang tahan terhadap intrusi air laut bagi para petani setempat.
“Sebagian lahan juga diproyeksikan menjadi pusat perbenihan padi biosalin unggul guna menjamin ketersediaan bibit tahan intrusi air laut,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa penerapan teknologi presisi dalam sektor pertanian diharapkan mampu menekan risiko gagal panen akibat faktor alam yang selama ini sulit dihindari.
“Melalui penerapan teknologi yang presisi, risiko gagal panen akibat faktor alam diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan,” terangnya.
Transformasi menuju pertanian digital ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga menjadi bukti bahwa lahan bekas rob tetap memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat. (*)
