Dinilai Ganggu Perekonomian, Pemkab Batang Pertimbangkan Program Jateng di Rumah Saja

  • Bagikan
Bupati Batang Wihaji bersama Wakil Bupati Suyono saat acara sosialisasi layanan aplikasi Kembang Desa. (KORAN LINGKAR JATENG/LINGKAR.CO)
Bupati Batang Wihaji bersama Wakil Bupati Suyono saat acara sosialisasi layanan aplikasi Kembang Desa. (KORAN LINGKAR JATENG/LINGKAR.CO)

BATANG, Lingkar.co Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang akan mempertimbangkan kebijakan program Jateng di Rumah Saja yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Pasalnya, program itu dinilai akan berdampak mengganggu perekonomian para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Saya berpihak pada pelaku usaha untuk tetap bisa beraktivitas, kecuali masyarakat yang tidak beraktivitas ekonomi, saya persilakan,” kata Bupati Batang, Wihaji.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Menurutnya, pelaku usaha bisa merugi karena dagangan mereka biasanya ramai pembeli pada Sabtu dan Minggu.

“Kami mendukung programnya, tetapi Pemkab memiliki gaya yang berbeda menyesuaikan kondisi lokal. Terpenting, hari ini fokus penerapan protokol kesehatan, ekonomi jalan, kasus Covid-19 berkurang,” tegasnya.

Seorang pedagang telor asin dan rempah-rempah nampak menjajakan barang dagangannya sambil menunggu pembeli. (RISCA KRISDAYANTI/LINGKAR.CO)
Seorang pedagang telor asin dan rempah-rempah nampak menjajakan barang dagangannya sambil menunggu pembeli. (RISCA KRISDAYANTI/LINGKAR.CO)

Politisi asal Partai Golkar ini berpendapat, saat ini ekonomi masyarakat dengan pandemi Covid-19 ini masih dalam kondisi sangat sulit.

 “Oleh karena itu, kami masih mencari cara dan formula yang tepat agar perekonomian rakyat kecil tetap jalan dan tidak terganggu aktivitas ekonominya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wihaji menambahkan, hal yang terpenting saat ini adalah bagaimana lebih mengintensifkan lagi satuan tugas (Satgas) Covid-19 dalam melakukan operasi yustisi masker.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan menggunakan layanan pesan antar untuk mengurangi kerumunan, baik di pusat perbelanjaan maupun warung makan.

“Apa gunanya dua hari di rumah saja kalau hari berikutnya tidak patuh prokes. Justru menunggu hari saja akan muncul masalah baru,” pungkasnya. (ara/aji)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.