Gagasan Jateng di Rumah Saja Bikin Rakyat Menderita, Desak Ganjar Tak Perpanjang Kebijakan PPKM

  • Bagikan
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. (JATENGPROV/LINGKAR.CO)
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. (JATENGPROV/LINGKAR.CO)

SEMARANG, Lingkar.co- Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo terkait “Gerakan Jateng di Rumah Saja” pada Sabtu dan Minggu (6-7/2) membuat warga kalang kabut. Meski sejumlah daerah telah memodifikasi SE tersebut dengan dalih kearifan lokal, tampaknya hal itu tetap memberikan efek signifikan bagi masyarakat.

Dari pantauan Lingkar Jateng sejak berlakunya SE tersebut, sejumlah warga menanggapi berbeda-beda imbauan tersebut. Ada yang memilih tutup usahanya, karena terpaksa mengikuti SE itu dan ada pula yang mengabaikanya dengan alasan tak ada pilihan lain.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Seperti di Kota Semarang misalnya, beberapa tempat wisata memilih tutup. Seperti Wisata Ngrembel Asri dan Goa Kreo. ”Kalau Wisata Ngrembel  Asri wahana permainan kami tutup. Hanya restoran dan pelayanan jual ikan yang kami buka,” kata Muhtarom, manajer Wisata Ngrembel Asri.

Pengelola Gos Kreo Ahmad Saiful mengatakan, Goa Kreo juga tutup dua hari terpaksa mengikuti imbauan itu.  ”Dengan adanya peraturan itu kita mengikuti prosedur yang sudah ada lah,” kata Ahmad  Saiful.

Sementara itu untuk pusat perbelanjaan di sejumlah titik terpantau sepi. Seperti Mall Citra Land, Java Mall, DP Mall, Tentrem, Transmart, ADA maupun Indomaret dan Alfamart ikut tutup sementara. Tapi untuk Paragon mall terpantau masih buka. ”Cuma Paragon yang masih buka kalau mall lain tutup,” ujar penjaga parkir jalan di Paragon Mall.

Beberapa warga yang biasanya jualan di Kawasan Peleburan, Semarang mengaku gerakan  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Jateng di Rumah Saja  memberatkan.

”Ya memberatkan lah. Kalau seperti kami ini, dapat uangnya kan dari jualan ini Mas. Tutup sehari saja, kami pikir-pikir, lah ini kok dua hari. Ini tetap buka Mas,” kata Mira, salah satu penjual pecel di daerah Peleburan yang ditemui.

Sementara itu, Mustam Aji, pemilik kios di kawasan Pasar Johar Semarang mengaku terpaksa mengabaikan imbauan. Sebab, ia tidak ada pilihan lain jika harus tutup. Hanya pada Sabtu (6/2) ia tutup lebih awal, itupun bukan karena SE pemerintah, tapi karena kena banjir. ”Tetap jualan. Kalau tidak jualan nanti gimana nasib kami. Harusnya ada solusi lah, toh ini saya buka juga sepi begini kotanya,” terangnya.

Terpisah, Cahya Basuki Pengurus Masyarakat Sadar Wisata (Masata) menambahkan, kebijakan, maupun imbauan harus hati-hati. Mengingat banyaknya warga yang terdampak atas gagasan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, berupa Gerakan Jateng di Rumah Saja.

”Sudah ada PPKM jilid II, kami pikir itu sudah membuat rakyat kecil resah. Lah ini ada lagi gagasanya Pak Ganjar sendiri. Ini jelas tidak akan efektif,” ungkap Basuki.

Ia meminta Gubernur Jateng supaya tidak memperpanjang kebijakan PPKM jilid II menjadi PPKM jilid III. Sudah cukup bagi rakyat kesulitan memenuhi kebutuhanya sehari-hari tidak usah ada lagi.

”Cukuplah, toh yang Pak Ganjar sampaikan, PPKM tidak efektif kan? Jadi hari ini (8 Februari) yang terakhir jangan diperpanjang. Kami sudah susah jangan dipersulit,” pintanya. (ito/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.