Lingkar.co – Harga bawang merah di tingkat petani di Kabupaten Kendal anjlok tajam menjelang Hari Raya Idulfitri. Kondisi ini memukul petani karena nilai jual hasil panen turun drastis jauh dari harga normal.
Pantauan di sejumlah sentra produksi, satu siring lahan yang biasanya mampu menghasilkan hingga Rp30 juta, kini hanya dihargai sekitar Rp12 juta. Penurunan ini terjadi hampir merata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal.
Petani setempat, Suwanto (56) mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan. Ia menyebut biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan harga jual saat ini.“Biasanya satu siring bisa sampai Rp30 juta, sekarang hanya Rp12 juta. Jelas merugi. Biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja tetap tinggi,” ujar Suwanto, Selasa (25/3/2026)
Menurutnya, anjloknya harga dipicu oleh panen raya yang terjadi secara bersamaan di berbagai daerah, sehingga pasokan melimpah dan harga di pasaran jatuh.
Untuk menyiasati kerugian, para petani mengambil langkah alternatif dengan menjual sebagian hasil panen dan menyimpan sisanya sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.
“Kami jual sebagian saja untuk kebutuhan, sisanya kami bawa pulang untuk bibit. Kalau semua dijual, nanti malah harus beli lagi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Muqodim (58) petani lainnya di wilayah tersebut, yang juga mengalami kondisi serupa. Ia mengaku hasil panennya ikut terdampak harga yang jatuh.
“Kondisinya sama, harga turun jauh. Mau tidak mau kami juga harus jual sebagian, sisanya disimpan untuk bibit,” kata Muqodim.
Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga dan memperbaiki distribusi hasil panen. Jika kondisi ini terus berlanjut, mereka khawatir akan mengurangi produksi pada musim tanam berikutnya. (*)
Penulis: Yoedhi W
