Lingkar.co – Bupati Kebumen Lilis Nuryani bersama jajaran dinas terkait pada hari Jumat (9/1/2026) mengunjungi kediaman keluarga AA (44), yang ditemukan tewas gantung diri beberapa hari lalu.
Kunjungan ke rumah duka di Desa Banyumudal Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memastikan langkah pendampingan psikologis dan bantuan darurat bagi anggota keluarga yang ditinggalkan pasca-peristiwa memilukan yang terjadi.
“Pemerintah Kabupaten Kebumen hadir untuk memastikan keluarga yang ditinggalkan tidak sendirian. Kami memberikan dukungan moral, bantuan ekonomi, pendampingan psikologis, hingga pembebasan biaya visum. Harapannya, tragedi seperti ini tidak terulang kembali,” ungkap Lilis.
Dalam kunjungan ini, Bupati juga menyerahkan bantuan berupa santunan, paket sembako, alat sekolah, hingga mainan untuk AZ (8), putri almarhumah yang selamat dari kejadian tersebut.
Sebagai langkah jangka panjang, Bupati juga menawarkan pekerjaan kepada paman dan bibi AZ agar mereka memiliki penghasilan stabil sehingga dapat fokus mendampingi tumbuh kembang sang keponakan di lingkungan yang aman.
Lilis menyatakan, Pemkab Kebumen kini berkomitmen melakukan pemetaan ulang warga pra-sejahtera agar bantuan sosial lebih tepat sasaran bagi mereka yang membutuhkan penguatan ekonomi.
Sejalan dengan arahan Bupati, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Kebumen telah bergerak cepat melakukan pendampingan psikososial sejak Rabu 7 Januari 2026
Kronologi
Kapolsek Buayan Iptu Walali Saebani mengatakan, korban berinisial AA (44) dan anaknya AT (5) yang masih balita ditemukan tewas tergantung di kusen pintu rumahnya di Buayan.
“Kejadiannya Selasa 6 Januari sekitar pukul 22.00 WIB, setelah mendapat laporan kami langsung melakukan pengecekan,” ujar Saebani.
Jasad keduanya ditemukan setelah anak sulung korban yang masih berusia 7 tahun melapor kepada salah satu kerabatnya. Bocah malang itu sebenarnya juga diminta untuk ikut bunuh diri, tapi ia selamat.
“Anaknya itu dua, yang kelas 2 SD itu selamat, lolos. Karena terbukti ada lingkaran tali yang sudah siap,” jelas Saebani.
Bocah itu lalu melaporkan peristiwa ini ke rumah salah satu kerabatnya. Saebeni menyebut, andai kata anak sulungnya juga ikut tewas kemungkinan jenazahnya tak ditemukan secepat itu.
“Anaknya itu mencari pamannya itu kan rumahnya deket, ketemu di tengah jalan disampaikan dalam bahasa Jawa (yang artinya) “aku ke rumah paman tapi sudah gelap, akhirnya ketemu di jalan. Adek diiket sama mamak”, jadi ngomongnya nggak digantung,” ucap Saebeni menirukan percakapan anak korban dan pamannya.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, bunuh diri ini dilatarbelakangi karena masalah ekonomi dan hubungan antara korban dengan suaminya. Hal ini memicu korban depresi.
“Sementara (penyebabnya) murni bunuh diri karena ekonomi. Korban ditinggal suaminya sekitar 2 tahun, kami cek di HP-nya, (pesan korban kepada suami) tidak pernah dibalas,” kata Saebeni.
Sebelum kejadian, diketahui AA sempat mengirimkan pesan melalui WhatsApp, namun pesan tersebut hanya dibaca dan berujung pada pemblokiran kontak. Kondisi inilah yang disinyalir memicu tekanan psikologis luar biasa pada AA. (*)
