Site icon Lingkar.co

Jelang Hari Raya, Pemkot Malang Pantau Harga Bahan Pokok

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat didampingi Kepala KPw BI Malang, Kepala BPS Kota Malang, dan Kadispangtan Kota Malang berdialog dengan pemilik peternakan ayam. Foto: dokumentasi

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat didampingi Kepala KPw BI Malang, Kepala BPS Kota Malang, dan Kadispangtan Kota Malang berdialog dengan pemilik peternakan ayam. Foto: dokumentasi

Lingkar.co – Pemerintah Kota Malang terus memantau tingkat stabilitas harga dan ketersediaan komoditas strategis, khususnya cabai, telur, dan daging pada momen menjelang momen peringatan hari besar keagamaan yakni Hari Raya Nyepi dan juga Hari Raya Idulfitri.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menjelaskan produksi cabai di Kota Malang sangat bergantung pada siklus masa tanam dan panen di masing-masing lahan.

Saat ini, katanya, luas lahan cabai di Kota Malang mencapai sekitar 65 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah. Menurutnya, setiap lahan memiliki fase produksi yang berbeda sehingga tidak dapat dihitung secara serentak.

“Setiap lahan memiliki masa tanam dan masa panen berbeda. Ada yang sudah memasuki panen kedua, ada yang belum panen, bahkan ada yang bisa sampai 30 kali panen. Jadi tidak bisa langsung ditotal dalam satu waktu,” terangnya usai mengikuti High Level Meeting (HLM) TPID Kota Malang serta peninjauan lahan cabai dan peternakan ayam di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (4/3/2026),

Sebagai gambaran, pada lahan seluas 4.000 meter persegi dengan sekitar 4.500 pohon cabai, hasil panen pada puncaknya yakni sekitar panen ke-12 hingga ke-14, dapat mencapai tiga kuintal dalam sekali panen. Namun pada panen awal, hasilnya relatif lebih rendah, sekitar 80 kilogram.

Dalam satu siklus tanam penuh, dari panen pertama hingga panen ke-30, potensi produksi disebut dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 ton. Meski demikian, kebutuhan masyarakat bersifat fluktuatif, terutama saat aktivitas mahasiswa kembali normal dan menjelang hari besar keagamaan.

Ia mengakui, produksi cabai dari dalam kota belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga pasokan dari luar daerah masih diperlukan. Pergerakan harga pun sangat dipengaruhi mekanisme pasar.

“Ketika harga cabai di Kota Malang naik dan dinilai menguntungkan, pasokan dari luar daerah akan masuk. Saat pasokan melimpah, harga biasanya ikut turun. Itu mekanisme pasar yang terjadi,” jelasnya.

Pada komoditas telur, harga telur ayam kampung di pasar saat ini berkisar Rp60 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam ras sekitar Rp29 ribu per kilogram.

Produksi telur di Kota Malang berasal dari peternakan di wilayah Wonokoyo dengan sekitar sembilan kandang, masing-masing berkapasitas 2.500 hingga 9.000 ekor. Namun demikian, produksi telur dalam kota juga belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan, sehingga tetap ditopang pasokan dari luar daerah.

Sementara itu, harga daging sapi relatif stabil di kisaran Rp122 ribu per kilogram. Pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang oleh sekitar 25 jagal, dengan jumlah pemotongan 30 hingga 40 ekor per hari, tergantung ukuran sapi.

Ia menegaskan, kebutuhan masyarakat cenderung meningkat pada momen tertentu seperti Ramadan dan saat aktivitas mahasiswa kembali aktif. Karena itu, pengendalian pasokan dan distribusi terus menjadi perhatian pemerintah.

“Kami terus melakukan pemantauan agar ketersediaan tetap aman dan harga terkendali, terutama menjelang momen keagamaan dan peningkatan aktivitas masyarakat,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version