Site icon Lingkar.co

Kasus Siswa SD Meninggal di NTT Jadi Alarm Perlindungan Sosial, Ini Kata Mensos

Menteri Sosial Saiffulah Yusuf saat ditemui awak media. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan ekonomi, setelah korban tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.

Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan, kejadian tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, untuk memperkuat perlindungan bagi keluarga rentan.

“Kami prihatin dan turut berduka. Ini menjadi atensi bersama, termasuk dengan pemerintah daerah. Pendampingan harus diperkuat dan data keluarga miskin perlu diperbaiki,” ujar Gus Ipul saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ia menekankan pentingnya pembenahan basis data sosial agar seluruh keluarga miskin dan miskin ekstrem dapat terjangkau bantuan pemerintah. Menurutnya, data yang akurat menjadi kunci agar program perlindungan sosial tepat sasaran.

“Data ini sangat penting supaya negara bisa hadir bagi keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan,” kata dia.

Gus Ipul menyebut, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan pendampingan sosial harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi paling rentan.

Sebelumnya, siswa SD di Kabupaten Ngada tersebut ditemukan meninggal dunia dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya berinisial MGT (47). Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, korban menyampaikan pesan perpisahan yang menyentuh.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara sang ibu, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak.

Peristiwa ini menyita perhatian publik dan memunculkan kembali sorotan terhadap pentingnya perlindungan sosial serta perhatian terhadap kondisi psikologis anak di tengah keterbatasan ekonomi.

Penulis: Putri Septina

Exit mobile version