Site icon Lingkar.co

Kebiasaan Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Ilustrasi - Duduk di depan komputer dalam waktu yang lama. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Sanjay Bhojraj, mengingatkan bahwa kebiasaan berdiam diri atau duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan jantung.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari Hindustan Times, Minggu (5/4/2026) waktu setempat, Sanjay menyebut banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan sederhana tersebut dapat berdampak serius bagi kesehatan jantung.

“Kebiasaan sehari-hari ini menggandakan risiko serangan jantung anda, dan kebanyakan orang tidak memikirkannya dua kali,” ujar Sanjay.

Ia menjelaskan bahwa gaya hidup yang minim gerakan sering kali luput dari perhatian masyarakat. Menurutnya, isu kesehatan seperti pola makan tidak sehat atau kebiasaan merokok lebih sering menjadi sorotan, sementara kurangnya aktivitas fisik justru menjadi faktor penting yang kerap diabaikan.

Sanjay menuturkan bahwa selama lebih dari dua dekade praktik sebagai dokter, ia kerap menemukan pasien yang memiliki kebiasaan duduk atau tidak bergerak dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat memperlambat sirkulasi darah, meningkatkan kadar gula darah, serta memicu risiko pembekuan darah.

“Itulah bagaimana risiko serangan jantung dan stroke meningkat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pencegahan tidak selalu harus dilakukan melalui latihan berat di pusat kebugaran. Langkah sederhana seperti berdiri setiap 30–60 menit, berjalan kaki singkat, atau melakukan beberapa gerakan squat sudah dapat membantu menjaga sirkulasi tubuh tetap aktif.

Temuan tersebut juga sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO). Dalam lembar fakta tahun 2024, WHO menyebut kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama kematian akibat penyakit tidak menular.

WHO mencatat bahwa orang dewasa yang tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik memiliki risiko kematian 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang aktif bergerak. Selain itu, perilaku sedentari juga berkontribusi langsung terhadap hipertensi dan obesitas, dua kondisi yang menjadi pemicu utama gagal jantung.

Lebih lanjut, studi yang dirujuk WHO pada 2022 menunjukkan bahwa gaya hidup tidak aktif menimbulkan beban biaya kesehatan global sekitar 27 miliar dolar AS per tahun. Hal tersebut disebabkan meningkatnya kasus penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Para ahli medis juga menjelaskan bahwa duduk terlalu lama dapat memperlambat metabolisme tubuh. Ketika tubuh tidak bergerak, enzim yang berperan memecah lemak dalam darah akan menurun. Kondisi ini membuat hubungan antara kebiasaan duduk lama dan gangguan kesehatan jantung menjadi semakin jelas.

Lingkungan modern yang didominasi aktivitas di depan meja kerja atau bersantai di sofa dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan biologis manusia yang dirancang untuk terus bergerak. (*)

Exit mobile version