Kepuasan Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Daring selama Pandemi COVID-19 pada Siswa di SD 3 Ngembal Kulon

  • Bagikan
Nanang Sulistyo Utomo, S.Pd., SD 3 Ngembal Kulon (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)
Nanang Sulistyo Utomo, S.Pd., SD 3 Ngembal Kulon (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)

*Oleh
Nanang Sulistyo Utomo, S.Pd
SD 3 Ngembal Kulon
nanangsulistyo10@gmail.com

Dewasa ini dunia tengah dilanda bencana akan wabah penyakit COVID-19. Meski bukan kali pertama adanya wabah, COVID-19 kali ini dianggap sebagai pandemi global yang penyebarannya sangat cepat. Fatma Dewi (2020) menjelaskan bahwa Coronavirus  merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Lebih lanjut Julio Torales dalam (Sukma Erni, dkk, 2020) menjelaskan bahwa Novel Coronavirus adalah penyakit yang menyerang manusia dengan gejala umum seperti  produksi dahak, sakit kepala, hemoptisis dan diare.  Mewabahnya COVID-19 di Indonesia menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari bidang sosial, ekonomi, pariwisata, dan pendidikan. Pemerintah sebagai lembaga eksekutif bergegas merumuskan berbagai kebijakan untuk menekan penyebaran wabah tersebut.  Mulai dari pembatasan aktivitas fisik di luar rumah, anjuran memakai masker, anjuran menjaga jarak, penutupan tempat pariwisata dan hiburan, hingga melakukan sistem kerja Work Form Home (bekerja dari rumah).

Kebijakan yang dibuat juga berlaku bagi sistem pendidikan di Indonesia. Pada tanggal 24 Maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  mengeluarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui pembelajaran jarak jauh/daring sebagai kebijakan yang diambil dalam masa darurat penyebaran COVID-19.  Pembelajaran daring merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara onlinse melalui media digital. Fatma Dewi (2020) menjelaskan bahwa  kegiatan pembelajaran daring dapat dilakukan guru dan peserta didik dengan menggunakan aplikasi seperti classroom, video conference, live chat, zoom, google meet, maupun whatsApp. Aturan tersebut menjadi titik balik perubahan sistem pendidikan di Indonesia. Terdapat pihak yang menyambut baik, tetapi banyak pula yang tidak karena asing dengan pembelajaran ini. Pembelajaran yang selama ini dilakukan secara tatap muka beralih ke dalam ruang digital. Siswa tidak dapat lagi bertemu dengan guru dan teman-temanya secara langsung, tidak saling bersenda gurau, dan bersosialisai satu sama lain. Kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah dengan memandangi hp atau laptop, dan berdiskusi secara online. Pada dasarnya belajar memang dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Hal itu sejalan dengan pendapat Putu Nilayani (2020) yang menyatakan bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Meskipun demikian, kondisi ini tetap menjadi hal yang baru bagi siswa dalam belajar.

Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Lebih rinci Komalasari, (2015: 2) menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan syarat bahwa perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan ataupun perubahan sementara karena suatu hal. Untuk mencapai perubahan dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut, perlu ada hubungan yang baik antara pendidik dan siswa. Syamsuddin Makmun, (2015: 156) menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran tidak berlangsung dari satu arah (one way system) melainkan terjadinya timbal balik (interactif, two way traffic system) di mana kedua pihak berperan dan berbuat secara aktif di dalam suatu kerangka kerja (frame work) dengan menggunakan cara dan kerangka berpikir (frame of reference) yang seyogyanya dipahami dan disepakati bersama. Perlu adanya hubungan yang baik antara guru, siswa, dan orang tua. Pada situasi sekarang ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu siswa belajar di rumah. Sebagai pendidik, guru juga perlu memacu diri untuk belajar mencari media digital yang paling tepat digunakan dalam pembelajaran daring. Guru perlu mempertimbangkan kondisi orang tua dan siswa dalam memilih media pembelajaran yang dianggap sesuai. Jangan sampai media yang dipilih tidak dapat dijangkau oleh siswa maupun orang tua. Meskipun demikian, siswa dan orang tua juga perlu memahami bahwa pembelajaran daring adalah hal yang baru bagi sebagian guru, terlebih pada guru senior yang kurang update dalam mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Perlu adanya komunikasi satu sama lain agar pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik.

 Keberhasilan pembelajaran secara daring dapat dilihat dari kepuasan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan survei yang dilakukan pada siswa di SD 3 Ngembal Kulon, kepuasan siswa terhadap pembelajaran daring mencapai rata-rata skor 4,02 dengan kriteria puas. Kuesioner disebar kepada seluruh siswa SD 3 Ngembal Kulon melalui google form. Dari 45 siswa, terdapat 23 siswa yang berkenan mengisi kuesioner tersebut.  Instrumen pengukuran kepuasan siswa terdiri dari 20 pernyataan dengan spesifikasi 4 pernyataan mengenai sarana dan prasarana, 4 pernyataan terkait inovasi guru, 4 pernyataan terkait pelayanan, 6 pernyataan terkait sikap dan tanggapan, 1 pertanyaan terkait aplikasi digital pembelajaran daring, dan 1 pertanyaan terkait harapan pembelajaran ke depan.

Aspek pertama adalah sarana dan prasarana, sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Liu, et.al dalam Napitupulu (2020) menjelaskan bahwa akses terhadap teknologi berperan penting dalam PJJ. Berdasarkan hasil penelitian, skor rata-rata kepuasan siswa dalam faktor sarana dan prasarana adalah 4,07 dengan kriteria “Puas”. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua informan telah mimiliki Hp yang mampu digunakan mengakses internet dengan baik. Meskipun demikian, terdapat 1 informan yang menyatakan keberatan dalam membeli kuota internet. Bicara mengenai hal tersebut, pihak sekolah dan pemerintah telah memberikan bantuan kuota kepada siswa. Hal itu dilakukan untuk meringankan beban orang tua. Bantuan kuota dari sekolah dan pemerintah pun disambut baik. Hal itu terlihat dari jawaban informan yang menyatakan setuju bahwa bantuan kuota tersebut sangat membantu dalam penyediaan akses internet.

Aspek kedua adalah inovasi, aspek inovasi ini terkait dengan penggunaan media digital dan variasi materi yang disampaikan dalam pembelajaran daring. Skor rata-rata kepuasan yang didapat dari aspek ini sebesar 3,70 dengan kriteria “Puas”. Meskipun dalam kriteria puas, terdapat 2 informan yang menyatakan bahwa materi tidak tersampaikan dengan baik, dan 1 informan yang menyatakan bahwa guru kurang inovatif dalam menyampaikan materi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa guru kurang optimal dalam memberikan dan menjelaskan materi kepada siswa dalam pembelajaran daring. Guru kurang mampu menggunakan media yang efektif untuk menjelaskan materi. Padahal penggunaan media yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas informasi dan layanan yang diterima oleh siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Parwirosumarto (2016) yang menyatakan bahwa metode PJJ yang tepat berpengaruh pada kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas layanan yang diterima oleh siswa.

Selanjutnya adalah aspek pelayanan, skor rata-rata yang diperoleh pada aspek pelayanan adalah 4,29 dengan kriteria “Sangat Puas”. Informan disajikan 4 pernyataan terkait dengan pelayanan guru dalam memberikan motivasi, konsultasi, dan ruang dalam menyampaikan pendapat. Pemberian pelayanan perlu dilakukan untuk membantu proses belajar siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Komalasari (2015: 5) yang menjelaskan bahwa unsur psikologis berupa minat, kecerdasan, bakat, dan motivasi menjadi faktor keberhasilan belajar siswa. Sehingga layanan motivasi, pemberian semangat, dan konsultasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran daring.

Aspek yang terakhir adalah sikap dan tanggapan, aspek sikap dan tanggapan erat kaitanya dengan interaktivitas antara guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh sebesar 4,00 dengan kriteia “Puas”. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas informan merasa aktif bertanya dan mudah berkomunikasi dengan guru dalam pembelajaran daring. Melalui interaktivitas yang baik, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan guru. Guru juga akan mampu mengidentifikasi sejauh mana tahapan belajar yang telah dilakukan siswa. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Syamsuddin Makmun (2015: 230) yang menjelaskan bahwa dengan mengidentifikasi perilaku siswa, guru akan dapat mengidentifikasi pada tahap belajar manakah atau tipe belajar manakah yang telah dijalani siswanya.

Berdasarkan uraian kepuasan siswa pada tiap aspek di atas, secara umum kepuasan siswa SD 3 Ngembal Kulon terhadap pelaksanaan pembelajaran daring yang dilakukan guru mencapai skor 4,02 dengan kriteria “Puas”. Skor tersebut diperoleh dari rata-rata tiap aspek kepuasan siswa dalam hal sarana dan prasarana, inovasi guru, pelayanan, serta sikap dan tanggapan siswa terhadap pelakasanaan pembelajaran daring. Meskipun demikian, dari hasil survei juga menunjukkan bahwa 60,9% informan menginginkan agar kegiatan pembelajaran dapat segera dilakukan secara face to face.(*)

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!