Site icon Lingkar.co

Ketua Muslimat NU Bulusan, Dari Hobi Merawat Tanaman Jadi Cuan.

Ketua PR Muslimat NU Kelurahan Bulusan, Siti Umayah saat di tokonya Sabtu (17/1/2026). Foto: Rifqi/Lingkar.co

Ketua PR Muslimat NU Kelurahan Bulusan, Siti Umayah saat di tokonya Sabtu (17/1/2026). Foto: Rifqi/Lingkar.co

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Ranting (PR) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Siti umayah berhasil merintis usaha sendiri dari hobi berkebun. Ia kini memiliki toko bunga di rumah, Jalan Timoho Raya 250, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang Jawa Tengah.

Ia mengaku, ia sudah lama memiliki hobi merawat berbagai jenis tanaman hias. Sedangkan usaha tersebut ia mulai sejak akhir akhir pandemi Covid-19, “Sudah lima tahun, sekitar akhir pandemi Covid-19,” akunya.

“Sebenarnya ini cuma iseng mengisi hari tua, karena hobi terus pandemi banyak di rumah, daripada nganggur terus iseng coba pajang tanaman untuk dijual,” kata Bu Maya, sapaan akrabnya saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Toko bunga di depan rumahnya menjual aneka tanaman hias seperti kaktus, bonsai, dan sebagainya, serta bibit tanaman buah seperti mangg kelengkeng, dan sebagainya. Sedangkan bibit tanaman sayur hanya terong, tomat, lombok, tanaman toga. Toko bunga dulunya garasi truk pasir karena suami memiliki usaha jual pasir, “Ini dulu garasi truk pasir,” ujarnya.

Lahan terbatas, menurutnya, bukan hambatan serius untuk berkebun. Sebab, tanaman hias bisa ditata sedemikian rupa dengan model almari, sedangkan sayuran bisa ditanami dengan pot.

Terkait penggunaan pupuk tanaman, ia mengaku tidak bisa 100 persen menggunakan pupuk alami. Namun ia tidak bisa memberikan perbedaan spesifik karena tanaman hias sering habis sebelum besar.

Perempuan asal Banyumeneng Mranggen Demak ini mengaku lebih suka berwirausaha daripada bekerja di pabrik maupun kantor.
“Saya kerja itu tidak boleh ngoyo (rekasa atau terlalu berat). Rencana mau jual di car free day juga anak-anak tidak boleh,” akunya.

Saat ini ia sudah tidak repot mencari dagangan karena berlangganan pupuk dan bibit tanaman, terutama tanaman hias dan tanaman buah, “Untuk tanaman hias ini kulakan dari Bandungan, pupuk dari Salatiga, kadang kita cari sendiri, kadang diantar pemasok,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Tembalang, Dwi Supratiwi mengatakan, dirinya mendorong agar kader Muslimat NU tidak hanya menjadi ibu rumah tangga yang tanpa penghasilan.

“Sekecil apapun, kita dorong perempuan bisa mandiri, dan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Menurut Tiwi, sapaan akrab Dwi Supratiwi, pertanian perkotaan atau urban farming.memiliki banyak keunggulan. Dari memanfaatkan galon air, plastik bekas minyak kemasan sebagai pengganti pot

“Pot tidak harus beli, kalau cuma untuk cabe bisa pake galon atau plastik bekas minyak goreng kemasan,” ujarnya.

Dari hasil urban farming, kata Tiwi setidaknya tidak perlu khawatir dengan kemungkinan L lonjakan harga cabe, terutama saat.enjelang tahun baru dan hari raya idul fitri. Sedangkan tanaman hias, menurut dia, lebih mengutamakan perawatan.

“Kalau tanaman hias kan seperti tadi Bu Maya bilang, perawatan dari air sampai pupuk, untuk pot bisa disiasati dengan barang bekas atau sampah plastik,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Exit mobile version