Pembelajaran Problem Based Learning Berbantu Audio Visual untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Abad 21

  • Bagikan
Moh. Syafi’i, S.Pd., Kepala SD 3 Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)
Moh. Syafi’i, S.Pd., Kepala SD 3 Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)

*Oleh:
Moh. Syafi’i, S.Pd.
Kepala SD 3 Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus

Berdasarkan Permendikbud nomor 21 tahun 2016 tentang standar isi satuan pendidikan dasar dan menengah yang menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. 

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi dimana saja dan kapan saja (informasi), adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi), mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana saja dan kemana saja (komunikasi). Bahwa kesuksesan seorang peseta didik tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga peseta didik harus belajar untuk memilikinya. Kecakapan abad 21 meliputi berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. 

Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi dimana saja dan kapan saja (informasi), adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi), mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana saja dan kemana saja (komunikasi). Bahwa kesuksesan seorang peseta didik tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga peseta didik harus belajar untuk memilikinya. Kecakapan abad 21 meliputi berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. 

Guru dituntut mampu menguasai kurikulum, materi, metode, dan juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun guru di SD 3 Undaan Tengah masih mendominasi kelas, peseta didik pasif. Guru memberikan konsep, sementara peseta didik menerima bahan jadi. Guru menerangkan sebentar terus anak disuruh mengerjakan LKS. Pembelajaran belum terarah dan belum terencana yang membuat pambelajaran aktif, kreatif dan menyenagkan.

Model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Bbased Learning (PBL) adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru atau nyata, pengintegrasian konsep Higher Order Thinking Skills, keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri, dan keterampilan.

Selain guru, siswa merupakan faktor utama dalam pembelajaran.  Kemampuan siswa mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran IPA. Peseta didik kelas IV SD 3 Undaan Tengah belum dapat menganalisis masalah dan membuat kesimpulan dalam pembelajaran. Selain itu, peseta didik belum dapat melaksanakan penyelidikan dengan cara mengumpulkan data dan melakukan percobaan. Peseta didik juga belum percaya diri untuk mengajukan pendapat saat berdiskusi dan saat mempresentasikan hasil diskusinya.

Sarana dan prasarana pembelajaran juga mempengaruhi belum tercapainya tujuan pembelajaran IPA di kelas IV SD 3 Undaan Tengah. Media pembelajaran sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran IPA kurang digunakan secara maksimal. Kurangnya penggunaan media pembelajaran mempengaruhi kemampuan peserta didik. Pembelajaran menjadi kurang menarik dan monoton. Media yang digunakan juga kurang menggambarkan isi materi.

Berdasarkan diskusi tim peneliti dengan guru senior, untuk memecahkan masalah mata pelajaran IPA di SD 3 Undaan Tengah, tim kolaborasi menetapkan alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat mendorong keterlibatan peseta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantu media audio visual.

Model PBL berbantu media audio visual berhasil diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini didukung oleh beberapa hasil penelitian tersebut adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Noviyani (2012), hasil penelitian yang diperoleh yaitu penggunaan model PBL dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA yaitu hasil belajar peseta didik. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Anissa (2012), hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar dalam mengelola pembelajaran mengalami peningkatan.

Dari ulasan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti mengkaji melalui penelitian dengan judul “Pembelajaran Problem Based Learning Berbantu Audio Visual untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Abad 21”.

Berdasarkan rumusan masalah maka dirumuskan tujuan penelitian yaitu meningkatkan hasil belajar peseta didik kelas IV SD 3 Undaan Tengah dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model Problem Based Learning berbantu media audio visual.

Penelitian ini dilaksanakan di SD 3 Undaan Tengah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus pada semester I tahun pelajaran 2019/2020. Subjek penelitian ini adalah guru dan peserta didik kelas IV SD 3 Undaan Tengah sebanyak 11 peserta didik yang terdiri dari 7 peserta didik perempuan dan 4 peserta didik laki-laki.

Pencapaian tujuan IPA untuk memecahkan masalah diperlukan berbagai model pembelajaran, model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menyajikan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada peserta didik, yang dapat berfungsi sebagai dasar untuk investigasi dan penyelidikan. Dalam proses peserta didik menemukan solusi penyelesaian masalah dibutuhkan media pembelajaran yang menarik dan mengandung contoh penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari yaitu media audio visual. Media audio visual adalah media visual yang menggabungkan penggunaan suara dan memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya Asyhar, 2014:91). Media audio visual dapat menyajikan informasi, menggambarkan suatu proses dan tepat mengajarkan keterampilan, menyingkat dan mengembangkan waktu serta dapat mempengaruhi sikap.

Indikator kualitas pembelajaran dapat dilihat antara lain dari perilaku pembelajaran pendidik (teacher’s behavior), perilaku dan dampak belajar siswa (student’s behavior), iklim pembelajaran (learning climate), materi pembelajaran, media pembelajaran, dan sistem pembelajaran di sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus mempunyai kompetensi yang diperlukan sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Kompetensi guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik, selain menguasai empat kompetensi guru dipersyaratkan untuk menguasai keterampilan dasar mengajar.

Pada proses pembelajaran, hasil belajar tidak hanya dilihat dari aspek produk saja tetapi juga aspek proses. Keberhasilan pembelajaran dilihat dari aspek produk adalah keberhasilan siswa mengenai hasil yang diperoleh dengan mengabaikan proses pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran dari aspek produk, hasilnya langsung dilihat dan ditentukan kriterianya, namun dapat mengurangi makna proses pembelajaran sebagai proses yang mengandung nilai-nilai pendidikan.

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku individu yang mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang setelah seseorang tersebut melakukan kegiatan tertentu yang disebut belajar. Pada penelitian ini hasil belajar peseta didik adalah hasil belajar siswa yang menerapkan model Problem Based Learning berbantu media audio visual saat pembelajaran IPA pada ranah kognitif yang merupakan tolak ukur keberhasilan penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan pembelajaran IPA materi struktur organ tubuh manusia pada siswa kelas IV SD 3 Undaan Tengah Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Adapun peningkatan pembelajaran dapat disimpulkan hasil belajar peserta didik pada data awal secara klasikal rata-rata 67,39 dan pada siklus I ada 74,56dan pada siklus II hasil belajar peserta didik secara klasikal rata-rata 82,83 mengalami kenaikan 15,44. Aktivitas siswa secara klasikal pada  data awal 60,00 sedangkan Siklus I dengan skor 70,00 dan pada Siklus II mencapai skor 83,80  mengalami kenaikan 23,80 dari siklus awal sampai siklus II.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.