Lingkar.co – Pondok Pesantren Sunan Giri, Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga Jawa Tengah menggelar pawai ta’aruf di setiap menjelang akhir tahun pembelajaran atau alhirus Sanah. Pawai tahun ini, pawai mengangkat tentang budaya Nusantara.
Nampak rombongan demi rombongan santri mengenakan beragam kostum. Yang berbeda. Ada satu rombongan berkostum pasukan pengibar bendera pusaka dengan iringan para santri yang membawa bendera merah putih tampil di depan.
Ada juga rombongan santri yang mengenakan busana tradisional Jawa dengan gunungan seolah sedang melakukan upacara adat saat panen. Ada juga yang berkostum barongan, dan sejumlah kostum unik lainnya.
Panasnya matahari pagi pada hari Ahad (18/1/2026) menjadi penambah semangat para santri dan antusias warga yang menyambut pawai setelah beberapa hari belakangan ini Intensitas hujan yang cukup tinggi.
Setiap rombongan menggunakan alat musik tradisional yang berbeda. Sehingga suasana menjadi lebih khas dan tak beda jauh dengan upacara adat.
Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, menuturkan bahwa tema Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi sengaja diangkat sebagai respons atas derasnya arus globalisasi.
Ia menilai, generasi muda, khususnya Gen Z atau Zilenial yang lebih suka menjauh dari budaya bangsanya sendiri. Mereka malah lebih akrab dengan budaya luar yang populer dan hadir lewat layar gawai dan musik modern.
“Santri punya tanggung jawab moral untuk memperkenalkan dan menjaga kebudayaan bangsa ini,” ujarnya.
Bagi Umam, pesantren memegang peran strategis sebagai penyaring budaya luar sekaligus menjaga nilai-nilai adiluhung warisan leluhur. Ia bilang, budaya tidak boleh ditolak mentah-mentah, tetapi disaring, dirawat, dan dihidupkan kembali agar tetap relevan dengan zaman.
Selain itu, ia memperhatikan Salatiga dikenal sebagai Kota Toleransi, miniatur Indonesia yang penuh dengan keragaman. Kota kecil dengan luas 54,98 kilometer persegi ini menjadi ruang perjumpaan berbagai agama, suku, dan budaya.
Kampanye Ramah Lingkungan
Pesantren yang didirikan dan diasuh oleh KH. Maslihuddin Yazid, salah satu tokoh Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah (Jatman) ini pada mulanya hanya menyelenggarakan pendidikan khas pesantren, yakni madrasah diniyah. Namun seiring perkembangannya kini telah memiliki jenjang pendidikan formal.
Sebagai pesantren yang menjadi tempat belajar dan bermukim ribuan santri ini juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal itu salah satunya dengan menampilkan drumblek sebagai bentuk kampanye kepedulian terhadap lingkungan.
Drumblek, sebuah kreasi seni musik sengaja ditampilkan Para santri dan cukup memikat hati masyarakat yang melihat.
Para penabuh musik drumblek ikut dalam iringan sebagai edukasi bahwa sampah tidak harus dibuang. Namun bisa dikelola menjadi sesuatu yang berharga, seperti memanfaatkan barang bekas menjadi alat musik yang familiar di telinga.
Melalui drumblek, mereka menegaskan bahwa kreatifitas bermain musik tidak bisa lemah oleh terbatasnya alat musik, dan kreatifitas santri tidak terbatas karena waktu yang lebih banyak digunakan untuk belajar ilmu agama.
Selain itu, pawai ta’aruf kali ini seolah menjadi syiar bahwa santri tak hanya berkutat pada ilmu gramatika bahasa arab dan belajar ilmu agama. Lebih dari itu juga menegaskan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Umam menegaskan, Pesantren Sunan Giri, seni dan agama bisa berjalan beriringan. Para santri diajarkan bahwa kesenian adalah bagian dari dakwah, media menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang lembut dan membumi.
Nilai budaya dan spiritualitas dipadukan agar ajaran agama terasa indah dan membawa kemaslahatan bagi siapa saja.
“Pawai ta’aruf akhirus sanah kali ini mengajak masyarakat untuk peduli terhadap budaya Indonesia, budaya Nusantara dan peduli terhadap lingkungan yang berkelanjutan,” pungkas Umam. (*)
Penulis: Husni Muso
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat
