Lingkar.co – Produksi garam di Kabupaten Pati sepanjang tahun 2025 turun signifikan dibanding pada tahun 2024. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa.
Hadi menyebutkan sepanjang tahun ini produksi garam di Pati tercatat hanya mencapai 93 ribu ton. Angka ini turun signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 324 ribu ton.
“Di tahun 2024, (produksi garam, Red) 324 ribu ton. Di tahun 2023 itu masih 250 ribu ton,” jelas Hadi, kemarin.
Menurut Hadi, penurunan produksi garam dipengaruhi oleh faktor cuaca. Tahun ini, katanya, Kabupaten Pati mengalami kemarau basah yang tidak ideal terhadap proses produksi garam.
Selain cuaca, lanjutnya, perubahan luasan tambak juga menjadi penyebab berkurangnya produksi. Para petambak cenderung beralih menyesuaikan komoditas yang dinilai lebih menguntungkan.
“Salah satunya selain kemarau basah, luasan lahan itu berubah-ubah. Mana yang menguntungkan untuk tambak ikan atau tambak garam,” ungkapnya.
Hadi menilai kondisi tersebut membuat sektor garam di Kabupaten Pati masih membutuhkan berbagai upaya peningkatan, terutama dari sisi kualitas produksi.
“Memang kita kualitas kita perlu banyak peningkatan, kita tahu bahan bakunya airnya banyak sedimentasi,” jelasnya.
Meski produksi menurun, harga garam di tingkat petambak justru mengalami kenaikan. Hadi menyebutkan, harga garam pada pekan lalu mencapai Rp 2.600 per kilogram.
“Sebelumnya pada bulan Maret harga garam masih di angka Rp 1.200 per kilogram,” pungkasnya. (*)