Lingkar.co – Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Kota Semarang menuai perhatian warga. Salah satunya datang dari Rachman, tokoh muda yang sangat peduli terhadap lingkungan, khususnya ekosistem sungai.
Rachman menilai keberadaan ikan sapu-sapu yang kian masif telah mengancam keseimbangan ekosistem perairan.
Ia merespons positif langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sebelumnya gencar melakukan pemberantasan ikan tersebut hingga saat ini, dan berharap upaya serupa juga dilakukan oleh pemerintah daerah di Semarang.
“Ikan sapu-sapu sangat merusak ekosistem. Mereka memakan telur ikan lokal sehingga mengancam keberadaan ikan endemik,” kata Rachman, Selasa, (21/4/2026).
Menurutnya, dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada ekosistem biotik, tetapi juga pada struktur fisik sungai.
Ikan sapu-sapu diketahui membuat lubang di dasar dan dinding sungai untuk berkembang biak, yang berpotensi merusak pondasi hingga menyebabkan longsor atau jebolnya tanggul.
Tersebar Luas di Sungai Kota
Rachman mengungkapkan, populasi ikan sapu-sapu telah tersebar di berbagai aliran sungai di Kota Semarang.
Beberapa di antaranya berada di kawasan Kota Lama seperti Jalan Merak, Kali Marabunta, Kali Krokosono di sekitar SMA Negeri 14 Semarang, hingga wilayah Kaligawe, Genuk, Tlogosari, Madukoro, dan Ronggowarsito. Selain itu, ikan ini juga ditemukan di waduk buatan kawasan rusunawa, hingga Polder Tawang.
Pria yang juga memiliki hobi memancing mengaku kerap menangkap ikan sapu-sapu secara mandiri untuk dimusnahkan. Namun, jumlahnya yang sangat banyak membuat upaya tersebut tidak signifikan.
“Saya berharap ada keterlibatan relawan lingkungan maupun pemerintah, termasuk dinas terkait, untuk melakukan penanganan serius terhadap populasi ikan ini,” ungkapnya.
Harapkan Peran Pemerintah
Rachman juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem sungai.
Ia membagikan pengalamannya sebelum pandemi Covid-19, ketika berhasil membersihkan aliran sungai di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Semarang Utara.
Kala itu, ia secara mandiri membersihkan sampah selama dua pekan, memasang sistem penyaring sederhana, serta memperindah area sungai.
Upaya tersebut berhasil mengubah kondisi sungai menjadi lebih bersih, jernih, dan dipenuhi ikan, sekaligus meningkatkan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama akibat keterbatasan biaya dan dukungan.
Ia mengaku sempat kehilangan pekerjaan selama pandemi, sehingga tidak mampu lagi merawat ekosistem sungai yang telah dibangunnya.
“Kalau ada dukungan dari pemerintah dengan sistem seperti itu, saya yakin sungai di Semarang bisa bersih dan penuh ikan,” ujarnya.
Kini, dengan kondisi sungai yang kembali tercemar dan populasi ikan sapu-sapu yang terus meningkat, Rachman berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah.
“Kalau Jakarta bisa, Semarang juga harus bisa,” tegasnya.
Senada, Heri Kurniawan yang juga hobi memancing. Ia kerap mendapati ikan sapu-sapu di Kali Banjir Kanal Barat.
“Ada banyak, besar-besar. Kadang naik, muncul dari bawah terus kembali masuk ke dasar sungai,” ujarnya.
Yang ia ketahui ikan sapu-sapu hanya memakan lumut. Herannya, kata Heri, ikan sapu-sapu ternyata beberapa kali memakan cacing dan udang umpan dan tersangkut kail.
“Padahal niatnya mancing ikan Nila, ternyata malah beberapa kali cacing umpan dimakan ikan sapu-sapu,” ujarnya. (*)
