Site icon Lingkar.co

Satu Tahun Agustina–Iswar, Fondasi Ketangguhan Kota di Tengah Tekanan Fiskal

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat menyampaikan capaian selama satu tahun memimpin Kota Semarang. (dok Alan Henry)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat menyampaikan capaian selama satu tahun memimpin Kota Semarang. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Satu tahun kepemimpinan Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menjadi fase fondasi percepatan pembangunan Kota Semarang. Di tengah tantangan keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi nasional, duet Agustina–Iswar mengklaim capaian terukur, mulai dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Jawa Tengah hingga ketahanan fiskal yang tetap solid.

Data 2025 mencatat IPM Kota Semarang berada di angka 85,80 (kategori sangat tinggi). Sementara realisasi pendapatan daerah mencapai 92,31 persen. Tingkat kepuasan publik juga tercatat 83,6 persen berdasarkan Survei Litbang Kompas.

Ekonomi Kerakyatan Jadi Penyangga
Di tengah kebijakan efisiensi belanja pemerintah melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025, dinamika Pendapatan Asli Daerah (PAD) menunjukkan kontras.

Pajak hiburan melampaui target 106,38 persen. Pajak restoran 104,31 persen. Namun pajak hotel hanya 79,10 persen. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tercatat Rp186,9 miliar.

Agustina menyebut capaian ini sebagai bukti daya lenting ekonomi warga. “Ketika belanja dinas pemerintah menyusut, daya beli masyarakat justru mengalir kuat ke sektor hiburan, kuliner, dan ekonomi kreatif. UMKM menjadi penyangga vital kota ini,” tegasnya.

Lima Pilar Pembangunan

  1. Semarang Bersih
    Gerakan “Semarang Wegah Nyampah” membentuk 1.074 unit bank sampah dengan 35.411 pelaku. Sebanyak 221.299 ton sampah dikelola sepanjang 2025, menghasilkan dampak ekonomi sirkular Rp570 juta lebih. Pemkot juga memiliki 454 kontainer dan 237 TPS, serta melakukan penghijauan 16,58 hektare dengan 46.510 bibit. Tiga RTH baru dibangun, termasuk Taman RBRA Abdurrahman Saleh.
  2. Semarang Sehat
    Predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga Nasional versi UI Green Metric 2025 diraih. Peserta UHC meningkat dari 98.261 menjadi 228.859 warga. Kasus stunting ditekan dari 5.480 menjadi 3.560 kasus. Angka Harapan Hidup mencapai 78,72 tahun.
  3. Semarang Cerdas
    Rata-rata lama sekolah 11,11 tahun. Beasiswa diberikan kepada 4.258 siswa lintas jenjang dan 12 mahasiswa miskin berprestasi. Program sekolah swasta gratis menjangkau 129 sekolah dengan anggaran Rp25,79 miliar. Angka putus sekolah SD 0 persen, SMP 0,01 persen.
  4. Semarang Makmur
    Event “Semarang 10K” dengan 3.000 peserta menjadi katalis ekonomi kreatif. Sebanyak 7.217 pekerja rentan didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan melalui program Pijar Semar. Pembebasan PBB untuk 98.847 wajib pajak dan BPHTB untuk 97.847 wajib pajak turut dilakukan.
  5. Semarang Tangguh
    Wilayah genangan rob berkurang dari 3,29 persen menjadi 2,71 persen. Genangan seluas 230,98 hektare berhasil dientaskan. Pemeliharaan jalan sepanjang 25,8 km serta 56 saluran kota dan sungai dilakukan.

Tantangan Masih Ada
Meski sejumlah indikator menunjukkan progres positif, sektor akomodasi masih tertekan akibat efisiensi belanja perjalanan dinas pemerintah.

Hal ini menjadi catatan penting dalam menjaga keseimbangan sektor ekonomi kota agar tidak bergantung pada satu sumber pertumbuhan.

Namun, Agustina menegaskan bahwa fondasi sistemik yang dibangun melalui lima tagline menjadi modal ketangguhan jangka panjang. ***

Exit mobile version