Lingkar.co – Ada tiga sekolah dasar di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat menjadi pusat tanggap darurat bencanaPemkab Pati Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana. Sementara kegiatan belajar mengajar dialihkan sementara ke sistem daring demi mendukung penanganan bencana.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (KBB) resmi menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di SD Negeri 1 Pasirlangu, SD Negeri Karyabakti, dan SD Negeri Cinta Bakti sejak Senin (26/1/2026). Keputusan ini diambil setelah bangunan sekolah dimanfaatkan sebagai dapur umum dan fasilitas pendukung bagi warga terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning dan Babakan, Desa Pasirlangu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan KBB, Asep Dendih, menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk kepedulian dunia pendidikan terhadap misi kemanusiaan yang lebih besar.
“Sekolah-sekolah yang lokasinya paling dekat dengan titik longsor saat ini kami gunakan untuk kegiatan kemanusiaan. Karena itu, proses belajar mengajar sementara dilakukan secara daring agar penanganan darurat bisa berjalan maksimal,” ujar Asep di lokasi bencana.
Meski demikian, ia mengaku jumlah siswa yang terdampak kebijakan ini cukup signifikan. Ia paparkan di SDN Pasirlangu 1 terdapat 190 siswa dari 6 rombongan belajar (rombel), SDN Cinta Bakti sebanyak 80 siswa dari 6 rombel, dan SDN Karyabakti sebanyak 140 siswa dengan 6 rombel. Total ratusan anak kini mengikuti pembelajaran dari rumah, dengan pendampingan penuh dari para guru.
“Ini bukan pertama kalinya kita menerapkan pembelajaran daring. Saat pandemi Covid-19, sistem ini terbukti bisa berjalan. Prinsipnya, hak belajar anak-anak tetap kami jaga,” tegas Asep.
Bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari itu meninggalkan luka mendalam. Sedikitnya 30 rumah tertimbun material tanah, dengan 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak langsung. Tragisnya, di antara para korban terdapat dua orang siswa SDN Karyabakti, sebuah fakta yang semakin menguatkan bahwa bencana ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang masa depan generasi muda.
Kini, sejumlah ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara tawa dan diskusi pelajaran, beralih fungsi menjadi dapur umum, posko logistik, dan pusat koordinasi bantuan. Meja belajar berubah menjadi tempat persiapan makanan, papan tulis menjadi penanda distribusi logistik, dan halaman sekolah menjadi ruang harapan bagi para penyintas.
“Untuk kondisi saat ini, sekolah sangat memungkinkan digunakan sebagai pusat aktivitas kemanusiaan karena fasilitasnya memadai,” ujar Asep.
Terkait durasi pembelajaran daring, Asep menyampaikan pihaknya masih menunggu hasil koordinasi lanjutan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB. Pembukaan kembali sekolah akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di lapangan dan aspek keselamatan.
“Keselamatan warga dan kelancaran penanganan bencana menjadi prioritas utama. Setelah kondisi benar-benar aman dan stabil, sekolah akan kembali berfungsi sebagaimana mestinya,” katanya.
Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa sekolah bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga simpul solidaritas sosial. Di saat bencana datang tanpa peringatan, dunia pendidikan di Bandung Barat menunjukkan wajah sejatinya: hadir, tangguh, dan berdiri di garis terdepan kemanusiaan. (*)
