Site icon Lingkar.co

Waspada Brebet Saat Menanjak, Ini Tanda Busi Motor Wajib Diganti

Ilustrasi busi motor honda kotor. (dok Istimewa)

Ilustrasi busi motor honda kotor. (dok Istimewa)

Lingkar.co – Kondisi geografis Jawa Tengah yang didominasi jalur menanjak dan kontur berbukit menuntut performa mesin sepeda motor selalu dalam kondisi prima. Bagi pengendara motor Honda yang kerap melintasi kawasan seperti Bandungan, Kopeng, Temanggung, Wonosobo hingga jalur pegunungan lainnya, komponen kecil seperti busi memiliki peran besar terhadap kenyamanan dan keselamatan berkendara.

Busi berfungsi sebagai pemantik api yang memulai proses pembakaran di ruang mesin. Saat komponen ini mulai aus, kotor, atau celah elektrodanya melebar, proses pembakaran tidak lagi optimal. Dampaknya, motor akan kehilangan tenaga dan muncul gejala khas yang dikenal sebagai brebet atau misfiring.

Gejala ini paling terasa ketika motor berada dalam kondisi beban berat, seperti membawa penumpang atau melibas tanjakan panjang.
Mesin terasa tertahan, respon gas melambat, dan tenaga tidak keluar secara linear. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengendara saat membutuhkan tenaga instan di jalur menanjak.

Selain brebet, busi yang melemah juga memengaruhi proses starter. Motor menjadi lebih sulit dihidupkan, membutuhkan waktu starter lebih lama atau harus dilakukan berulang kali. Hal tersebut terjadi karena percikan api yang dihasilkan tidak lagi kuat dan stabil.

Masalah lain yang sering muncul akibat busi bermasalah adalah konsumsi bahan bakar yang semakin boros. Pembakaran yang tidak sempurna membuat sebagian bahan bakar terbuang tanpa menghasilkan tenaga maksimal, sehingga efisiensi mesin menurun.

Secara teknis, kondisi busi dapat dicek secara visual. Busi yang masih sehat umumnya memiliki warna ujung isolator merah bata atau cokelat muda. Jika warna berubah menjadi hitam kering, terdapat kerak berlebih, atau elektroda tampak menipis, maka busi sudah memasuki fase penggantian.

Untuk penggunaan harian, busi standar direkomendasikan diganti setiap 6.000 hingga 8.000 kilometer. Sementara busi berbahan iridium atau platinum memiliki usia pakai lebih panjang, yakni sekitar 15.000 hingga 20.000 kilometer, namun tetap perlu dilakukan pemeriksaan rutin, terutama sebelum perjalanan jarak jauh.

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, menegaskan pentingnya perawatan busi sebagai bagian dari menjaga performa mesin.

“Busi memang komponen kecil, tapi efeknya besar. Jangan menunda penggantian hanya karena harganya murah. Busi yang sesuai spesifikasi pabrikan akan menjaga performa mesin tetap optimal, irit bahan bakar, dan tentu saja lebih aman saat berkendara,” jelasnya.

Dengan busi dalam kondisi prima, karakter mesin akan terasa lebih responsif, tarikan lebih halus, serta tenaga tetap stabil, terutama saat menghadapi tanjakan dan beban berat, sesuatu yang krusial bagi pengendara di wilayah dengan medan menantang seperti Jawa Tengah. ***

Exit mobile version