Site icon Lingkar.co

Yusril Pertimbangkan Skema Bebas Visa Timbal Balik dengan UEA

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra membuka peluang pengkajian kebijakan bebas visa timbal balik serta penguatan kerja sama penerbangan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Khususnya untuk mendukung peningkatan layanan jamaah umrah,” kata dia dalam pertemuan bilateral dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dalam sektor keimigrasian dan transportasi udara, Yusril menyambut positif meningkatnya mobilitas warga kedua negara. Ia juga mengapresiasi kolaborasi yang telah terjalin, terutama pada bidang perdagangan serta energi minyak dan gas.

Yusril turut menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya memperkuat kemitraan bilateral di berbagai sektor strategis.

“Pembentukan Danantara sebagai lembaga investasi pemerintah serta kerja sama dengan Dubai Fund diharapkan dapat mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar dia.

Menurutnya, hubungan Indonesia–UEA masih terbuka lebar untuk diperluas, termasuk di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesehatan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan UEA dalam pembangunan masjid serta fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.

Yusril berharap kolaborasi di bidang kedokteran dapat ditingkatkan, terutama untuk menjawab keterbatasan jumlah dokter dan rumah sakit berteknologi tinggi di dalam negeri.

Menanggapi hal tersebut, Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Aldhahheri mengungkapkan bahwa Etihad Airways berencana membuka rute penerbangan langsung Abu Dhabi–Medan dan Abu Dhabi–Surabaya.

Selain itu, Emirates Airlines tengah memproses perizinan pengoperasian pesawat berbadan lebar guna memperkuat konektivitas udara antara Indonesia dan UEA.

Ia menegaskan hubungan bilateral kedua negara terus menunjukkan perkembangan signifikan. Menurutnya, Presiden RI telah tiga kali melakukan kunjungan ke UEA, dan kedua negara baru saja memperingati 50 tahun hubungan diplomatik. Dalam waktu dekat, presiden UEA juga dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Indonesia.

“Hubungan bilateral yang sebelumnya berfokus pada sektor tradisional seperti pelabuhan dan minyak kini telah berkembang ke sektor strategis, antara lain energi terbarukan, pertahanan, kesehatan, dan pendidikan,” ungkap dia.

Abdulla mencontohkan sejumlah proyek kerja sama, di antaranya pembangunan rumah sakit jantung di Solo, pengembangan pusat studi bakau di Bali, serta kolaborasi pendidikan antara Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Universitas Zayed di bidang humaniora. Kerja sama tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong transfer pengetahuan.

Ia juga mengapresiasi kemudahan layanan keimigrasian bagi warga negara UEA yang jumlahnya terus meningkat. Meski demikian, ia menilai masih terdapat ruang penguatan kerja sama, termasuk di sektor energi panas bumi bersama PT Pertamina (Persero) Tbk. yang saat ini belum sepenuhnya bersifat bilateral.

Penulis: Putri Septina

Exit mobile version