Akhirnya, Ekonomi Jateng Tumbuh 5,66 Persen Paska Terkontraksi 4 Kuartal

  • Bagikan

SEMARANG, Lingkar.co – Selama 4 kuartal, tepatnya sejak Triwulan II-2020, perekonomian Jawa Tengah (Jateng) selalu mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif), imbas dari pandemi Covid-19.

Namun, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, kinerja perekonomian provinsi ini pada Triwulan II-2021, menunjukkan peningkatan yang sangat pesat.

Perekonomian Jateng, Triwulan II-2021 menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi year on year (y-on-y) dari -5,91 persen pada Triwulan II-2020 menjadi 5,66 persen pada Triwulan II-2021.

“Ekonomi Jateng, Triwulan II-2021 tumbuh sebesar 5,66 persen (y-on-y), setelah 4 kuartal sebelumnya mengalami kontraksi,” kata Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono.

Meski tumbuh sebesar 5,66 persen, kata Sentot, pertumbuhan ekonomi Jateng masih dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 7,07 persen.

DUA SEKTOR USAHA PENYUMBANG TERTINGGI

Ia menjelaskan, ekonomi Jateng pada Triwulan II-2021 dapat meningkat pesat karena peningkatan pertumbuhan hampir seluruh sektor usaha, kecuali Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.

“Transportasi dan Pergudangan merupakan sektor usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi, sebesar 85,43 persen pada Triwulan II-2021,” ujarnya, dalam rilis, dikutip Sabtu (7/8/2021).

Padahal kata Sentot, kedua sektor usaha itu, sempat terpuruk hingga mencatatkan kontraksi -62,95 persen pada Triwulan II-2020, karena pembatasan perjalanan.

“Walau pun pada Triwulan II-2021, masih ada penerapan pembatasan perjalanan melalui kebijakan PPKM, tetapi tidak seketat kebijakan PSBB tahun lalu,” ujarnya.

Hal tersebut terlihat dengan meningkatnya jumlah penumpang angkutan udara maupun angkutan laut yang berangkat dari Jateng.

Pada periode April-Juni 2020, jumlah penumpang angkutan udara yang berangkat hanya mencapai 44.406 orang, sedangkan April-Juni 2021 meningkat tajam sebanyak 197.827 orang.

“Jumlah penumpang angkutan laut juga meningkat dari 10.640 orang selama periode April-Juni 2020 menjadi 48.975 orang selama April-Juni 2021,” kata Sentot.

Pertumbuhan ekonomi Jateng, agak tertahan karena lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang masih menyumbang kontraksi sebesar -0,81 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, kata Sentot, komponen yang mengalami kenaikan paling tinggi terjadi pada Komponen Ekspor sebesar 34,43 persen.

TRIWULAN I-2021 (q-to-q) TRIWULAN II-2021

Sentot mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jateng pada Triwulan II-2021 tumbuh sebesar 1,03 persen, apabila merujuk pada Triwulan I-2021 (q-to-q).

Meski demikian, kata Sentot, capaian pada triwulan ini lebih lambat dari capaian triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh sebesar 1,73 persen (q-to-q).

“Namun capaian ini jauh lebih baik dari Triwulan II-2020 yang mengalami kontraksi,” ujarnya.

Sentot mengatakan, pada Triwulan II 2021, lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,13 persen.

Ia menuturkan, administrasi pemerintahan, seperti pencairan dana bansos, gaji ke-13 dan 14 pegawai negeri sipil, memberi pengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Kemudian ada Jasa Pendidikan sebesar 2,83 persen, dan Industri Pengolahan sebesar 2,69 persen.

Pada sisi pengeluaran, kata Sentot, seluruh komponen tumbuh positif.

“Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu 31,45 persen,” ujarnya.

Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II-2021, ia berharap, dapat bertahan pada semester III dan IV 2021.***

Penulis: M Rain Daling

Editor: M. Rain Daling

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: