Lingkar.co – Pendidikan berkualitas di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro kembali menunjukkan kiprahnya di kancah global. Salah satu alumninya, kini dipercaya menjadi Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Hospital XXIX-P dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon.
Alumnus Program Studi Spesialis Radiologi FK Undip tersebut mengemban tugas pada periode 2025–2026, dengan tanggung jawab ganda sebagai pimpinan satuan sekaligus dokter spesialis di wilayah dengan keterbatasan fasilitas medis.
Menurut dr. Audrianto, pendidikan yang ia tempuh di Semarang menjadi fondasi utama dalam membangun kompetensi klinis dan ketangguhan menghadapi tantangan global.
“Pendidikan di FK Undip sangat suportif dalam membentuk kepercayaan diri kami di kancah internasional. Selain aspek medis teknis, kemampuan komunikasi global dan publikasi ilmiah menjadi modal utama saat berkoordinasi dengan tenaga medis lintas negara di misi PBB,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kurikulum di FK Undip mengombinasikan teori dan praktik dengan paparan literatur internasional, sehingga membentuk pola pikir adaptif yang sangat dibutuhkan dalam situasi lapangan.
Dalam penugasannya di Lebanon, dr. Audrianto menekankan pentingnya peran radiologi sebagai penunjang diagnosis, terutama di tengah keterbatasan alat medis.
“Radiologi adalah unsur vital, namun diagnosis tetap berawal dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sekitar 70 persen diagnosis bisa ditegakkan dari dua proses awal tersebut,” jelasnya.
Kondisi di lapangan, lanjutnya, sering kali hanya didukung fasilitas dasar seperti X-Ray dan ultrasonografi (USG). Dengan analisis klinis yang tajam, ia mampu memaksimalkan penggunaan alat tersebut sebelum memutuskan rujukan lanjutan seperti CT-Scan atau MRI.
Selain tantangan medis, situasi keamanan di wilayah tugas juga menjadi perhatian. Dinamika konflik di sekitar area penugasan menuntutnya menjalankan peran strategis, baik dalam menjaga keselamatan personel maupun memastikan layanan kesehatan tetap optimal.
Ia berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa kedokteran untuk terus menjaga integritas dan profesionalisme.
“Di medan tugas tidak ada zona nyaman. Pendidikan yang kuat adalah modal, tetapi dedikasi tuluslah yang membuat kita mampu bertahan dan memberi manfaat bagi kemanusiaan,” pungkasnya. ***




