Lingkar.co – Kota Semarang mengawali tahun 2026 dengan kondisi deflasi sebesar 0,25 persen pada Januari. Meski harga sejumlah komoditas mengalami penurunan, tekanan biaya hidup warga belum sepenuhnya mereda karena kenaikan harga di beberapa sektor strategis masih terjadi.
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Semarang, Duto Sulistiyono, menjelaskan deflasi Januari 2026 tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,83. Sementara secara tahunan (year on year), Semarang masih mengalami inflasi 3,29 persen, yang dinilai masih berada dalam rentang aman target inflasi nasional.
“Secara month to month Januari 2026 kita mengalami deflasi 0,25 persen. Namun secara year on year, inflasi masih di angka 3,29 persen dan ini masih dalam rentang target inflasi nasional, yakni 1,5 sampai 3,5 persen,” kata Duto, Selasa (3/2/2026).
Ia menyebut, tekanan inflasi masih terasa pada beberapa kelompok pengeluaran, terutama perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, disusul kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, serta rekreasi, olahraga, dan budaya.
Salah satu komoditas yang memberi andil cukup besar terhadap inflasi adalah emas perhiasan, yang naik hingga 0,25 persen. Kenaikan ini disebut tidak lepas dari dampak dinamika geopolitik global yang memengaruhi harga emas dunia.
“Emas perhiasan ini kenaikannya cukup tinggi. Tapi karena bobotnya lebih kecil dibanding tarif listrik, andil inflasinya masih di bawah tarif listrik,” jelasnya.
Selain emas, beberapa komoditas lain juga tercatat mengalami kenaikan, seperti sepeda motor, bawang putih, serta aneka makanan ringan seperti kue kering dan kue basah. Untuk bawang putih, Duto menyebut kenaikan dipicu keterlambatan realisasi impor.
“Bawang putih naik karena adanya keterlambatan realisasi pengadaan impor. Ini sudah dibahas dalam rakor TPID nasional pada 19 Januari,” ujarnya.
Di sisi lain, deflasi Januari 2026 ditopang oleh turunnya harga komoditas pangan dan energi, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, serta bensin. Penurunan harga cabai, menurut Duto, terjadi karena permintaan mulai melemah seiring berakhirnya momentum Natal dan Tahun Baru.
“Permintaan sudah menurun karena dampak Nataru sudah berkurang. Itu yang menyebabkan harga cabai turun,” katanya.
Sementara penurunan harga bensin dipengaruhi kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM non-subsidi pada awal Januari.
Namun demikian, secara tahunan inflasi masih dipengaruhi oleh tarif listrik, yang kembali normal setelah pada Januari 2025 lalu sempat diberlakukan diskon 50 persen.
“Tarif listrik ini bobotnya besar. Tahun lalu ada diskon, sekarang sudah tidak ada, otomatis memberikan sumbangan inflasi yang signifikan,” jelas Duto.
Selain listrik, komoditas lain yang masih menyumbang inflasi tahunan antara lain beras, mobil, dan rokok sigaret kretek mesin. Sementara secara year on year, beberapa komoditas justru mengalami deflasi, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang putih, telepon seluler, dan tarif kereta api, yang sebelumnya mendapat diskon selama periode libur akhir tahun.
Duto menegaskan, meski kondisi inflasi di Kota Semarang masih terkendali, fluktuasi harga di awal tahun tetap perlu diwaspadai karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat.
“Secara umum masih aman, tapi dinamika harga di kelompok kebutuhan dasar seperti listrik dan pangan tetap harus menjadi perhatian,” pungkasnya. ***








