Bebatuan Mirip Candi Ditemukan di Lereng Muria, Begini Tanggapan Disbudpar Kudus

MENJELASKAN: Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Lilik Ngesti saat memberikan keterangan mengenai bebatuan yang diduga candi di lereng Gunung Muria Kamis (4/3/21). (NISA HAFIZHOTUS SYARIFA/KORAN LINGKAR JATENG)
MENJELASKAN: Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Lilik Ngesti saat memberikan keterangan mengenai bebatuan yang diduga candi di lereng Gunung Muria Kamis (4/3/21). (NISA HAFIZHOTUS SYARIFA/KORAN LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkar.co – Masyarakat menemukan tumpukan bebatuan yang mirip dengan struktur candi di lereng Gunung Muria. Tepatnya di kawasan Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Penemuan tersebut beredar di media sosial sejak akhir tahun 2020 lalu. Dari informasi yang beredar di masyarakat, bangunan itu diduga merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Kalingga.

Namun, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Lilik Ngesti menyatakan bahwa pihaknya belum secara resmi menerima laporan penemuan bangunan itu.

“Kami belum secara resmi menerima laporan mengenai hal itu, baru beredar di media sosial saja,” ujar Lilik.

Pihaknya bahkan belum mengetahui titik koordinat bangunan itu tepatnya berada. “Kita kaji lebih lanjut dahulu mengenai video yang beredar tersebut. Kita cari tahu dahulu lokasi pastinya,” katanya.

Hal ini karena untuk mengkaji penemuan bangunan bersejarah perlu adanya laporan resmi yang bisa dipertanggungjawabkan ke Disbudpar Kabupaten Kudus. Supaya dapat dilakukan pengkajian lebih lanjut oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

“Tidak bisa kita melakukan pengkajian berdasarkan katanya saja, harus ada laporan resmi, minimal menghubungi Disbudpar secara langsung untuk melaporkannya,” kata dia.

Selain itu, untuk melakukan pengkajian mengenai bangunan bersejarah atau cagar budaya juga perlu mendatangkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Ini tentu membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

“Apakah itu cagar budaya atau tidak, apalagi peninggalan dari kerajaan, kami belum tahu karena proses kajian itu tidak hanya sebentar,” imbuhnya.

Kasi Sejarah, Museum dan Kepurbakalaan (Rahmuskala) Disbudpar Kabupaten Kudus Mitta Hermawati menilai, bebatuan tersebut berasal dari peristiwa geologis. Yakni tumpukan batu yang terjadi secara alami akibat letusan gunung berapi yang terjadi lebih dari puluhan tahun lalu. Batuan dari letusan gunung itu kemudian tersusun secara alami dan terbentuk menyerupai candi.

“Video yang beredar tersebut sudah kami konsultasikan ke bagian arkeologi, menurut mereka ini merupakan kejadian alam saja, bukan merupakan candi” ungkapnya.

Jadi, lanjut dia, bebatuan tersebut belum tentu sebuah candi. Namun, tak menutup kemungkinan bebatuan tersebut bisa juga merupakan bagian dari candi peninggalan Kerajaan Kalingga. Lantaran beberapa benda peninggalan Kerajaan Kalingga banyak di sekitar Gunung Muria.

“Masih banyak kemungkinan, perlu waktu panjang dan sejumlah ahli untuk meneliti itu. Sebelum ada ahli yang meneliti, kami belum bisa memastikan bangunan itu benar-benar cagar budaya atau tidak,” tandasnya.(isa/lut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.