Berkah Kirab Budaya, Penjual Mainan Tradisional Ketiban Rezeki

BLORA, Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Blora mengadakan Kirab Budaya pada Hari Jadi ke-273 pagi ini, Minggu (11/12/2022). Kegiatan ini menjadi berkah tersendiri bagi penjual mainan tradisional, ketiban rezeki.

Salah satunya Asep. Pria yang setiap hari berjualan di pasar Solo ini laku banyak saat menjajakan mainan tradisional di salah satu rute Kirab Budaya yang berangkat dari alun-alun dan berakhir di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blora.

“Tau Blora ada pawai Budaya, saya langsung menuju Blora ini dengan naik Bus,” ungkapnya.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

“Alhamdulillah, dagangan yang saya bawa mulai dari miniatur Barongsai, mainan lele-lelean dengan tali, miniatur Reog, burung warna-warni, dan lainnya, laku banyak ini,” sambungnya.

Ia lantas menerangkan, mayoritas mainan tradisional tersebut, ia jual dengan harga bervariasi, “Mulai dari 10ribu sampai 25ribu, tergantung jenis mainannya. Kalau miniatur Barongsai 20ribu,” jelasnya.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Oleh karena itu ia bersyukur masih bisa melestarikan mainan tradisional di tengah arus zaman yang menyajikan aneka mainan berbasis teknologi. Semangatnya tidak surut untuk berdagang, “Kalau masyarakat Blora itu masih menyukai mainan tradisional anak-anak, nggak tau kenapa, setiap jualan di Blora, mainan kayak gini diburu,” ungkapnya.

Png-20230831-120408-0000

“Kebanyakan orang tua yang membelikan mainan untuk anaknya, katanya biar nggak kecanduan Gadget,” imbuhnya membeberkan.

Optimis

Ia mengaku optimis jika mainan masih punya peluang bersaing di era yang banyak mengandalkan teknologi, setidaknya ikut melestarikan mainan tradisional, “Saya tetap semangat dan optimis jika mainan ini akan kembali berjaya lagi. Itu bisa dilihat dari jangka waktu lamanya permainan miniatur yang tetap diminati,” ujarnya.

“Meski perkembangan zaman sekarang zaman teknologi. Bagi saya, mainan tradisional seperti ini sangat penting,” kata warga Kecamatan Blora Kota, Ghozali.

Sebab, menurutnya, mainan tradisional harganya masih terjangkau dan membantu para orang tua agar anak tidak menghabiskan waktu untuk bermain Gawai, “Selain itu juga memberikan edukasi pada buah hati agar tak kecanduan Gadget,” ungkapnya. (*)

Penulis; Lilik Yuliantoro
Editor; Ahmad Rifqi Hidayat

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *