Lingkar.co – Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat, George Edwin Sugiharto, menyatakan bahwa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemajuan Kebudayaan Jawa Barat kini telah memasuki tahap akhir pembahasan.
Menurut dia, proses penyusunan regulasi tersebut saat ini berjalan melalui panitia khusus (pansus) yang dibentuk DPRD bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tahapan yang tersisa, kata dia, tinggal penyempurnaan naskah sebelum ditetapkan.
“Raperda pemajuan kebudayaan sedang proses, pansusnya kan sudah jalan. Saya kira tinggal finalisasi naskah raperda saja,” kata George saat dikonfirmasi di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).
Ia menilai kehadiran raperda ini menjadi langkah penting untuk memperkuat regulasi yang sudah ada, sekaligus menajamkan arah pelestarian budaya di daerah.
“Sebetulnya sudah ada peraturan-peraturannya, tapi ini mempertajam kembali untuk kita melestarikan budaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, George menegaskan bahwa kebudayaan merupakan identitas bangsa yang harus dijaga secara konsisten dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, ia menyoroti Cirebon sebagai daerah dengan nilai historis panjang yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan budaya di Jawa Barat.
“Cirebon ini bukan hanya jati diri Cirebon dan Jabar, tapi ini kan jati diri bangsa, karena Cirebon adalah sejarah tua,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan raperda ini dapat membuat upaya pelestarian budaya di Jawa Barat, termasuk di Cirebon, menjadi lebih terarah dan berkesinambungan. Selain itu, regulasi ini juga diharapkan mendorong keterlibatan berbagai elemen dalam menjaga warisan budaya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, sebelumnya menekankan bahwa keragaman budaya merupakan kekuatan strategis dalam menjaga identitas daerah sekaligus menopang peradaban nasional.
Ia juga menilai substansi raperda telah berada pada arah yang tepat karena memberikan ruang bagi para pelaku budaya untuk berekspresi serta mempertahankan nilai-nilai tradisi.
“Semua aspek budaya harus dilindungi negara seluas-luasnya, bukan hanya yang dianggap unggulan,” kata Erwan.
Penulis: Putri Septina
