Fluktuatif Harga Kedelai Buat Pengusaha Tempe Dilema

Nafis saat mempersiapkan tempe jualannya (Oman/LINGKAR.CO)

KENDAL, Lingkar.co – Pengusaha tempe mengalami dilema, terutama pada sektor usaha rumahan atau home industry Bagaimana tidak, biaya produksi tempe mengalami kelesuan lantaran harga kedelai yang fluktuatif.

Sesaat harga kedelai melambung tinggi, tiba-tiba kembali turun. Nafis (40) salah satu pembuat tempe pun terdampak fluktuatif harga kedelai.

Pengusaha tempe rumahan ini mengaku dilema untuk memberi bandrol hasil produksi.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

“Mau naikkan harga takut tidak terjangkau oleh pembeli, tidak naik harga produksi tidak nutup,” akunya kepada awak media Lingkar.co, Selasa (27/12/2022).

Ia mengaku gamang menentukan harga tempe saat awak media Lingkar.co menemuinya di rumahnya, Gg. Bangun RT.02 RW.04 Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kendal, Jawa Tengah.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

“Solusinya paling sedikit mengecilkan ukuran saja. Biar harga tetap sama dan pembeli tidak keberatan.” jelasnya.

Png-20230831-120408-0000

Teruskan Usaha Mertua

Mulanya, Nafis meneruskan usaha mertuanya berjualan tempe dari produsen lain. Namun sejak bulan Juli 2008, Nafis memutuskan memproduksi tempe sendiri dengan menggunakan nama brand tempe Bima

“Alhamdulilah sampai saat ini berjalan dan sudah banyak pelanggan. Selain saya setor-setorkan ke penjual atau warung makan dan penjual olahan tempe, saya juga jual sendiri di pasar Pegandon.” Jelas Nafis.

Lebih jauh Nafis mengeluhkan, tidak stabilnya harga kedelai sebagai bahan pokok tempe sangat mengganggu. Ia mengaku terbebani biaya produksi dan susah menentukan harga jual ke konsumen.

“Saya produksi sekitar 27 sampai 35 Kg kedelai tiap hari. Dengan harga jual variatif, dari yang satu blok Rp.4ribu, ada yang Rp.5ribu dapat tiga, dan ada yang eceran saya jual Rp.2ribu tiap irisan.” terangnya.

Menurutnya, tempe adalah makanan asli Indonesia. Semua lapisan masyarakat menikmatinya dengan beragam cara olah. Tempe juga memiliki gizi yang dibutuhkan tubuh.

Ia pun berharap Pemerintah yang menggemborkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lebih memperhatikan para pengusaha tempe rumahan. Terlebih, dunia usaha yang berusaha bangkit paska pandemi Covid-19.

“Kami harap pemerintah bisa lebih menperhatikan pengusaha mikro ini agar bisa lebih berkembang di tengah situasi ekonomi yang tidak sehat,” ucapnya.

Penulis: Oman Abdurrohman
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *