Gelar Budaya 2025 Tegaskan Rawat Tradisi Sebagai Identitas Bangsa

Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Dr Ahmad Maulani menyerahkan cinderamata kepada Ketua PCNU Kota Semarang, Dr. Drs. Anasom, MHum dalam penutupan Gelar Budaya 2025 yang berlangsung di Ponpes Durrotu Aswaja Semarang, Sabtu (29/11/2025). Foto: dokumentasi/istimewa
Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Dr Ahmad Maulani menyerahkan cinderamata kepada Ketua PCNU Kota Semarang, Dr. Drs. Anasom, MHum dalam penutupan Gelar Budaya 2025 yang berlangsung di Ponpes Durrotu Aswaja Semarang, Sabtu (29/11/2025). Foto: dokumentasi/istimewa

Lingkar.co – Gelar Budaya 2025 yang digelar Kementerian Kebudayaan RI berkolaborasi dengan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H Lalu Hadrian Irfani, menegaskan kembali pentingnya merawat tradisi sebagai identitas bangsa.

Mengangkat tema Festival Pesisiran, Akulturasi Islam dan Budaya Jawa, kegiatan yang berlangsung di halaman Pondok Pesantren Durrotu Aswaja Semarang pada Sabtu (29/11/2025) itu menghadirkan ratusan santri dan mahasiswa sebagai peserta utama.

Acara diisi paparan oleh sejumlah tokoh budaya dan akademisi. Keynote speech dibawakan Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, Dr Ahmad Maulani.

Kemudian disusul pemaparan oleh budayawan Islam Jawa Nusantara yang juga Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang KH Anasom, serta pemerhati budaya Islam–Jawa Kang Ipang Solo.

Pengasuh Ponpes Durrotu Aswaja, KH Agus Romadhon, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Gelar Budaya yang memunculkan ruang dialog antara agama dan tradisi Jawa.

Menurutnya, perjumpaan Islam dengan kebudayaan lokal adalah peristiwa yang alami dan niscaya terjadi sepanjang sejarah penyebaran Islam.

“Akulturasi budaya Islam dengan tradisi setempat adalah keniscayaan. Di mana pun Islam hadir, ia tidak berdiri sendiri. Ia melebur, berdialog, dan lahir dalam beragam wajah budaya,” ujarnya.

KH Agus menambahkan, keragaman ekspresi keislaman di Nusantara merupakan kekayaan yang harus terus dijaga, bukan justru dipertentangkan.

Tradisi, menurutnya, adalah jembatan yang mempertemukan nilai spiritual dan kearifan lokal.

Tradisi sebagai Akar Identitas Bangsa

Sementara itu, Stafsus Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Dr Ahmad Maulani menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perkembangan zaman.

Dalam era globalisasi yang serba cepat, katanya, masyarakat perlu mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarah dan kebudayaan yang menjadi identitas bangsa.

“Karakter bangsa tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari tradisi, nilai, dan pengalaman masyarakat. Internalisasi nilai budaya menjadi penting agar bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya,” tegas Maulani.

Ia mencontohkan bagaimana para pendiri bangsa, Soekarno, Mohammad Hatta hingga Ki Hadjar Dewantara menggali nilai Nusantara sebagai dasar membangun Indonesia.

Modal sosial berupa keragaman budaya dan agama menjadi kekuatan besar bagi persatuan nasional.

Sementara itu, Budayawan Islam–Jawa KH Anasom menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan tradisi Jawa dalam beriringan dengan nilai-nilai Islam.

Ia menegaskan, budaya tidak hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi juga mencakup cara pandang hidup, etika, hingga kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat.

Sementara pemerhati budaya Kang Ipang Solo memaparkan dinamika kontemporer hubungan Islam dan Jawa, termasuk tantangan modernisasi yang kerap mengikis kedekatan masyarakat dengan akar budaya mereka.

Secara keseluruhan, Gelar Budaya 2025 bukan sekadar festival seni, tetapi menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa Islam hadir bukan untuk meniadakan budaya, melainkan menumbuhkan, menyesuaikan, dan memperkaya warisan lokal. (*)