Lingkar.co — Ketika negara belum hadir, warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang memilih bergerak sendiri. Selama lebih dari sepekan, ratusan keluarga di kampung tersebut bergantung pada getek darurat buatan warga untuk menyeberangi Sungai Beringin, setelah jembatan penghubung roboh dan akses utama putus total.
Getek sederhana berbahan stirofoam, jeriken, bambu, papan kayu, dan triplek itu menjadi satu-satunya jalur penghubung antara Kampung Tambaksari dan Kelurahan Mangunharjo sejak Jumat pekan lalu. Warga secara bergiliran menjaga dan mengoperasikan getek selama 24 jam penuh.
“Ini sudah 10 hari seperti ini. Warga harus naik getek sejak Jumat pekan lalu,” kata Ngamuri, warga yang menjadi sukarelawan penarik getek, Rabu (28/1/2026).
Penyeberangan paling padat terjadi pada pagi hari. Anak-anak sekolah dan warga yang bekerja harus antre untuk menyeberang sungai demi menjalani aktivitas harian.
“Mulai ramai pukul 05.30 sampai 07.00. Sekali tarik bisa enam anak sekolah. Kalau orang dewasa biasanya tiga orang,” ujarnya.
Getek tersebut dijalankan tanpa tarif resmi. Warga hanya mengandalkan keikhlasan penumpang untuk biaya perawatan.
“Ini murni inisiatif warga. Tidak ada tarif, seikhlasnya saja,” kata Ngamuri.
Namun, kondisi penyeberangan sangat bergantung pada cuaca dan tinggi air sungai. Saat hujan deras atau debit air meningkat, aktivitas penyeberangan terpaksa dihentikan.
“Kalau air naik ya tidak bisa menyeberang. Warga terisolir total,” ucapnya.
Ketua RT 009 RW 007 Kampung Tambaksari, Mustagfirin, menyebut sedikitnya 250 hingga 300 kepala keluarga terdampak langsung akibat robohnya jembatan tersebut.
“Di RW 007 ada sembilan RT. Sebelah barat RT 001 sampai 005, sebelah timur RT 006 sampai 009,” jelasnya.
Menurut Mustagfirin, pemerintah kelurahan dan kecamatan sebenarnya sudah mengetahui kondisi tersebut. Namun, penanganan yang diberikan masih terbatas. “Responnya ya memberi semangat dan bantuan seperti sembako,” ujarnya.
Ia menuturkan, memang terdapat jalur alternatif melalui tanggul di sisi timur, namun kondisinya jauh dari layak.
“Kalau kemarau bisa sekitar 10 menit, tapi kalau hujan sulit dilewati karena masih tanah,” katanya.
Warga, kata Mustagfirin, telah berulang kali menyampaikan aspirasi agar jembatan segera dibangun kembali. Namun hingga kini belum ada kepastian waktu.
“Kami diminta menunggu karena katanya masih proses izin dari BBWS. Sampai sekarang belum jelas kapan dibangun,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian itu, solidaritas warga menjadi satu-satunya sandaran. Getek darurat bukan sekadar alat penyeberangan, tetapi simbol gotong royong warga yang terpaksa menutup ruang kosong yang ditinggalkan negara.
“Harapan kami sederhana, ada jembatan yang aman dan layak. Masa anak-anak sekolah di Kota Semarang harus seperti ini,” kata Ngamuri lirih. ***
