Rumah Ambruk Diterjang Ombak, Warga Demak Pilih Tinggal di Masjid

  • Bagikan
PARAH: Kondisi rumah Sanan (80) warga Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak usai diterjang angin dan ombak besar dua bulan lalu. (ADITIA ARDIAN/ LINGKAR.CO)
PARAH: Kondisi rumah Sanan (80) warga Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak usai diterjang angin dan ombak besar dua bulan lalu. (ADITIA ARDIAN/ LINGKAR.CO)

DEMAK, Lingkar.co – Kondisi memprihatinkan terlihat di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak. Pasalnya, Dusun yang hanya ada 10 KK tersebut sering dihantam rob sehingga menyebabkan penghuni mengungsi ke tempat yang aman.

Salah satu yang terdampak parah yakni rumah milik Sanan (80). Bukan hanya terdampak rob, tapi rumah miliknya itu ambruk. Menurut pengakuan Sanan, rumahnya tersebut sudah ambruk selama dua bulan.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Selama ambruk itu setiap hari saya di masjid. Mau pulang tidak ada rumah ya mau pulang di mana,” keluhnya baru-baru ini.

Dusun Tambaksari merupakan wilayah yang berada dekat dengan Makam Terapung Syekh Mudzakir. Setiap kali orang mau berziarah, mereka pasti akan melihat pemandangan rumah Sanan.

Sanan sudah tinggal di dusun tersebut sejak 1988. Ia bercerita jika dahulu, ada 75 KK yang menghuni dusun itu. Namun karena abrasi dan rob, pada tahun 2000 penduduk banyak yang pindah.

“Meski banyak yang pindah rumah, saya tetap milih bertahan. Karena kasihan Mbahe (Syekh Mudzakir, Red). Kalau kita pergi semua nanti makamnya nggak ada yang jagain,” ungkapnya.

Belum Ada Bantuan dari Pemerintah, Bangun Jalan Warga Iuran

Soal bantuan pembangunan rumah, Sanan lesu karena tidak ada bantuan dari pemerintah terkait. Bahkan, untuk memperbaiki jalan pun, warga mengumpulkan iuran dan menggunakan tenaga swadaya masyarakat.

Niat tulus Sanan untuk tetap tinggal di Tambaksari, agar bisa menjaga Makam Syekh Mudzakir memang patut diacungi jempol. Belum lagi, hampir setiap malam pukul 21.00 hingga pagi menjelang, rob menggenangi dusun tersebut dan memaksa penduduk sekitar mengungsi sementara ke masjid. 

“Biasanya kalau malam jam 9 gitu, rob naik tinggi, sampai warga kadang tinggal di masjid semua untuk sementara. Di sini (menunjuk sisi masjid yang sepi) biasanya tempat masak warga dan memakai 3 springbed,” ungkapnya.(dit/lut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.