Habiskan Anggaran Hampir Rp 2 Miliar, DPRD Jepara Soroti Pelatihan UMKM yang Belum Maksimal

  • Bagikan
PELATIHAN: Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Krapyak saat mendapatkan pelatihan membuat boneka serbuk kayu dari mahasiswa KKN, sebelum adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (MIFTAHUL UMAM/LINGKAR JATENG)
PELATIHAN: Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Krapyak saat mendapatkan pelatihan membuat boneka serbuk kayu dari mahasiswa KKN, sebelum adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (MIFTAHUL UMAM/LINGKAR JATENG)

JEPARA, Lingkar.co – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara menilai, pelatihan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dilakukan Pemkab Jepara di masa pandemi Covid-19 belum maksimal. Sebab, pelatihan yang diberikan disebut belum melihat kebutuhan maupun arah pasar. 

Hal ini disampaikan Anggota Pansus Percepatan Penanganan Dampak Ekonomi Pokja II Wilayah Selatan Saiful Muhammad Abidin saat rapat koordinasi dengan Satgas Covid-19 dan sejumlah mitra organisasi perangkat daerah (OPD), belum lama ini. Menurut Saiful, selain belum melihat kebutuhan pasar, pelatihan oleh Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) juga dinilai tak disesuaikan potensi lokal.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

”Mestinya kan disesuaikan dengan potensi lokal dan pangsa pasarnya,” kata anggota Komisi B DPRD Jepara ini.

Sementara itu, perwakilan Diskopukmnakertrans Jepara M Toriq menanggapi, jenis pelatihan UMKM ini mendasarkan proposal yang diajukan oleh desa. Proposal yang masuk ke pihaknya, kemudian diseleksi dan diverifikasi berdasarkan potensi masing-masing desa yang mengajukan pelatihan.

“Dalam melaksanakan pelatihan, kami berdasarkan proposal yang diajukan desa,” ungkap Toriq.

Ia mencontohkan, mayoritas pelatihan yang telah digelar yakni tata boga dan membatik. Bahkan, antusias peserta sangat tinggi. Namun pihaknya membatasi di setiap desa hanya untuk 30 orang. Hal ini mempertimbangkan pembatasan kegiatan sosial karena pandemi Covid-19. Selain pelatihan, kelompok peserta juga mendapat bantuan peralatan.

”Misal untuk pelatihan membatik, kami berikan peralatan dan perlengkapannya. Seperti lilin, kain, atau canting,” imbuh Toriq. 

Diketahui, pemerintah menggelontorkan anggaran penanganan dampak perekonomian akibat pandemi untuk tiga program di Diskopukmnakertrans. Yaitu pembinaan dan pemberdayaan UMKM melalui peningkatan kewirausahaan dengan anggaran senilai Rp 1,9 miliar, pelatihan kemasan packing senilai Rp 39 juta, dan pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan IHT dalam bidang terapan teknologi tepat guna bagi pencari kerja.(mam/lut/aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.