Hadapi Era AI, Gus Wafa Dorong Kader IPNU IPPNU Jadi Inovator Berkarakter

Seminar bertema “Optimalisasi Peran Pelajar IPNU IPPNU dan Santri dalam Pengembangan dan Pemanfaatanl Teknologi AI Berbasis Nilai Aswaja” di MTs Silahul Ulum, Minggu (28/12/2025). Foto: Miftah/Lingkar.co

Lingkar.co – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dinilai sebagai peluang besar bagi generasi muda, khususnya kader IPNU IPPNU dan santri, untuk berperan aktif dalam pembangunan peradaban digital yang berkarakter.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, M. Ali Wafa, dalam Seminar bertema “Optimalisasi Peran Pelajar IPNU IPPNU dan Santri dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi AI Berbasis Nilai Aswaja” di MTs Silahul Ulum, Minggu (28/12/2025). Kegiatan ini sebagai bagian dari agenda Konferensi Cabang (Konfercab) XV PC IPNU IPPNU Pati.

Dalam materinya, Gus Wafa, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa kehadiran AI di berbagai aspek kehidupan, mulai dari gawai, aplikasi pembelajaran, media sosial, hingga sistem pemerintahan, tidak semestinya disikapi dengan ketakutan. Menurutnya, teknologi justru harus dihadapi dengan ilmu, akhlak, dan nilai, agar memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.

“AI bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi perlu diarahkan. Di sinilah peran pelajar IPNU IPPNU dan santri menjadi penting sebagai generasi yang melek teknologi sekaligus berakar pada nilai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah telah menunjukkan sikap progresif sekaligus humanis melalui kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Salah satunya dengan menetapkan mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah.

“Kebijakan ini menunjukkan negara tidak ingin generasi mudanya tertinggal teknologi, tetapi tetap memberi ruang belajar secara bertahap dan sadar, tanpa memaksakan,” kata Gus Wafa.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kebijakan tersebut mengandung pesan kepercayaan negara terhadap potensi pelajar sebagai calon inovator, bukan sekadar pengguna teknologi. Namun demikian, penguasaan AI harus tetap sejalan dengan pendidikan karakter dan etika.

Dalam perspektif nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Gus Wafa menilai AI perlu diposisikan secara moderat dan seimbang. Nilai tawassuth, tawazun, tasammuh, dan i’tidal menjadi landasan agar teknologi digunakan untuk kebaikan, pendidikan, serta dakwah, bukan untuk hoaks, fitnah, atau manipulasi informasi.
Ia juga menyoroti peran strategis pelajar IPNU, IPPNU, dan santri sebagai pembelajar aktif, penjaga nilai digital, serta kreator konten kebaikan di ruang digital.

“Pelajar dan santri harus mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar, riset, dan organisasi, bukan menggantikan nalar berpikir. Adab dan tabayyun tetap menjadi kunci,” tegasnya.

Mengakhiri pemaparannya, Gus Wafa mengingatkan bahwa tantangan penyalahgunaan AI, ketergantungan teknologi, serta lunturnya etika digital harus dihadapi bersama dengan kesadaran moral dan spiritual.

“Santri dan pelajar NU harus melek AI, tetapi tetap berakhlak. AI harus menjadi sarana belajar, media dakwah, dan alat pengabdian kepada umat dan bangsa,” pungkasnya. (*)