Hadirkan Proses Pembelajaran dengan Konsep Budaya

  • Bagikan
ASYIK: Seorang guru mendampingi proses belajar Tempat Penitipan Anak (TPA) Punakawan, di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus sebelum pandemi covid-19. (MAULANA AINUL YAKIN/LINGKAR.CO)
ASYIK: Seorang guru mendampingi proses belajar Tempat Penitipan Anak (TPA) Punakawan, di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus sebelum pandemi covid-19. (MAULANA AINUL YAKIN/LINGKAR.CO)

KUDUS, Lingkar.co– Tempat Penitipan Anak (TPA) Punakawan di Jl. Lingkar Timur Dukuh Dopang RT/RW 01/03 Desa Megawon Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus menerapkan pembelajaran dengan konsep unik. Salah satunya pembelajaran dengan konsep budaya.

Ketua Perkumpulan TPA Punakawan Erwin Anjastuti menjelaskan,TPA Punakawan didirikan pada tahun 2011 oleh tiga orang yakni Erwin Anjastuti, Sri yati, dan Nuzulul Chotimah. Ia menjelaskan, visi dari TPA  Punakawan  yakni Berkarakter, Religius, dan Berbudaya.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Untuk mensukseskan visi tersebut, maka penerapan pembelajaran dengan konsep budaya yang menjadi pilihannya. Jika di sekolah lain menggunakan alat peraga seperti boneka, hewan, patung, dan lainnya, tetapi kalau di TPA Punakawan menggunakan Wayang sebagai alat peraga.

“Kami menggunakan wayang sebagai alat peraga untuk menambah semangat anak-anak dalam belajar. Sekaligus mengenalkan mereka beberapa tokoh dalam pewayangan yang menjadi nama dari sekolah ini,” katanya kepada Lingkar.co.

Tak hanya itu, setiap Rabu para guru juga menggunakan iger- iger atau topi yang dipakai oleh para Punakawan. Bahkan, TPA Punakawan juga mengadakan ekstrakurikuler menari dan nembang.

 “Rencananya juga akan ada ekstrakurikuler karawitan dan seni pedhalangan. Untuk ekstrakurikuler karawitan, kami terkendala dengan harga alat yang cukup mahal. Harapannya dengan adanya ekstra seni pedhalangan dan karawitan akan dapat memunculkan potensi-potensi dan juga calon penerus kebudayaan Indonesia yang sekarang ini mulai berkurang peminatnya,” ungkapnya.

Menurut Erwin Anjastuti, ada anak didik yang sukses menjadi dhalang cilik adalah Anggito Danirejo.“Kami berharap bagi generasi bangsa untuk melestarikan budaya Indonesia khususnya budaya Jawa agar tidak punah” tambahnya.

Lanjut Erwin, TPA Punakawan juga menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus. Misalnya, telat berjalan, tidak mau bicara dan juga hiper aktif. Tentunya dengan metode-metode tertentu dan teruji berhasil membantu anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tersebut.

“Disini tempat penitipan anak jadi sifatnya “NGEMONG” bukan hanya mendidik. Sudah beberapa anak yang berhasil kami tangani seperti, terlambat berjalan kami melakukan pijatan kaki,” lanjutnya.

TPA Punakawan juga menyelenggarakan pagelaran wayang setiap ulang tahun sekolah. Memiliki kewirausahaan hidroponik juga salah satu keunggulan TPA tersebut. Selain mendapat pemasukan dari hasil panen, anak-anak juga bisa belajar cara menanam dan merawat berbagai jenis sayuran.(kin/lut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.