Hanya 10 dari 79 Hidran Berfungsi, Damkar Semarang Minta Perhatian Serius

Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan. (dok Alan Henry)
Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Kondisi sarana penunjang pemadaman kebakaran di Kota Semarang menjadi sorotan. Dari total 79 titik hidran yang tercatat, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang menyebut hanya 10 hidran yang masih berfungsi.

Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, keberadaan hidran sangat vital dalam mendukung kecepatan dan efektivitas pemadaman kebakaran.

“Dari 79 titik hidran yang terdata, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak dan ada pula yang sudah tidak terlihat keberadaannya,” kata Ade, Jumat (2/1/2025).

Ade menjelaskan, tim Damkar telah melakukan penelusuran terhadap hidran yang tidak terlihat hingga radius sekitar 20 meter. Namun, sejumlah titik tidak berhasil ditemukan karena diduga tertutup bangunan atau infrastruktur jalan.

“Beberapa warga menyebut hanya terlihat bagian atas hidran, bahkan ada yang sudah tertutup cor atau bangunan,” jelasnya.

Dengan luas wilayah Kota Semarang mencapai 373,70 kilometer persegi, jumlah hidran yang tersedia dinilai jauh dari ideal. Kondisi ini membuat petugas Damkar harus bekerja lebih keras saat menangani kebakaran, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air.

Ade menyebut, di sejumlah kecamatan seperti Gunungpati dan Mijen, bahkan tidak terdapat satu pun titik hidran. Ia mendorong agar aset pemerintah, seperti kantor kelurahan dan fasilitas publik, dilengkapi dengan tandon air sebagai alternatif sumber pemadaman.

“Kalau hidran tidak tersedia, setidaknya ada tandon air di aset-aset pemerintah yang bisa dimanfaatkan saat darurat,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Ade mencontohkan Kota Surabaya yang telah beralih dari sistem hidran ke tandon air. Saat ini, Surabaya memiliki lebih dari 400 titik tandon air aktif dan dapat digunakan Damkar tanpa biaya.

“Di Surabaya, penggunaan air untuk pemadaman gratis. Itu hasil studi banding kami dan sudah kami sampaikan ke Wali Kota Semarang,” ungkapnya.

Damkar juga menyoroti temuan hidran yang tertutup cor di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, pada akhir 2025 lalu. Menurut Ade, kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya perhatian terhadap fungsi hidran sebagai fasilitas vital keselamatan publik.

Sepanjang tahun 2025, Damkar Kota Semarang mencatat sebanyak 275 peristiwa kebakaran, jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 341 kejadian. Meski demikian, keterbatasan sumber air dinilai tetap menjadi kendala serius di lapangan.

Ke depan, Damkar berencana mengundang pihak PDAM untuk melakukan sinkronisasi terkait keberadaan dan fungsi hidran di Kota Semarang.

“Kami akan duduk bersama PDAM. Mau tidak mau, Damkar tidak bisa bekerja optimal tanpa ketersediaan sumber air,” tandas Ade. ***