Imlek 2026 Jadi Ujian Regenerasi Pengrajin Barongsai di Semarang

Pengrajin Barongsai Semarang. (dok Alan Henry)
Pengrajin Barongsai Semarang. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Meningkatnya permintaan barongsai menjelang Imlek 2026 membawa dua sisi bagi para pengrajin di Kota Semarang. Di satu sisi, orderan melonjak dan membuka peluang keuntungan. Namun di sisi lain, lonjakan pesanan mendadak justru menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan usaha tradisi ini.

Di sebuah rumah produksi di Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, aktivitas perakitan barongsai berlangsung nyaris tanpa jeda. Sejumlah kepala barongsai setengah jadi berjajar, menunggu proses pengecatan dan penyempurnaan detail sebelum dikirim ke pelanggan dari berbagai daerah.

Candra Wiro Utomo, pengrajin barongsai generasi keempat, mengakui pola pemesanan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pesanan yang biasanya masuk dua hingga tiga bulan sebelum Imlek, justru banyak datang secara mendadak.

“Tahun-tahun sebelumnya orderan itu biasanya masuk sekitar 2–3 bulan. Tapi Imlek tahun ini banyak yang pesan mendadak, sampai kami kekurangan bahan,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Lonjakan permintaan membuat Candra dan timnya harus bekerja ekstra. Dengan enam orang pekerja, proses produksi dilakukan secara manual mulai dari perakitan kerangka rotan, penempelan ornamen, hingga pengecatan. Satu unit barongsai membutuhkan waktu pengerjaan sekitar lima hingga tujuh hari agar sesuai standar kualitas.

Sebagai usaha keluarga yang telah bertahan lintas generasi, menjaga kepercayaan pelanggan menjadi prinsip utama. Candra menyebut kepercayaan menjadi modal terpenting agar usaha tetap hidup di tengah persaingan dan perubahan zaman.

“Rahasianya adalah trust, dipercaya. Kalau kami tidak dipercaya orang, tentunya tidak akan ada banyak orderan yang masuk,” katanya.

Pasar barongsai buatan Candra tidak hanya berasal dari Pulau Jawa. Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan harga satu set barongsai sekitar Rp6,5 juta yang mencakup kepala, badan, celana, dan sepatu. Dalam setahun, jumlah pesanan bisa mencapai ratusan unit, dengan puncaknya terjadi menjelang Imlek.

Selain barongsai, tahun ini Candra juga mengerjakan pesanan naga berukuran besar dengan panjang mencapai 47 meter. Karya tersebut dikirim ke Singkawang dan Ketapang, dua daerah yang dikenal kuat dengan tradisi Imlek dan barongsai.

“Proses pembuatannya dimulai dari bikin kerangka, bahannya dari rotan. Kami menempel setiap bagian satu per satu,” ungkapnya.

Bagi Candra, Imlek bukan sekadar musim ramai penjualan, tetapi juga momentum untuk mempertahankan tradisi dan keahlian yang kian jarang diminati generasi muda. Di tengah modernisasi, pengrajin barongsai dihadapkan pada tantangan menjaga warisan budaya sekaligus memastikan usaha tetap berkelanjutan.

“Selain menjadi bagian dari budaya, barongsai dipercaya dapat mengundang berkah dan rezeki, serta berfungsi menolak bala di awal tahun,” pungkasnya. ***