Lingkar.co — Minat masyarakat terhadap investasi emas di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren positif pada awal Maret 2026. PT Pegadaian mencatat peningkatan volume transaksi produk investasi emas di wilayah tersebut.
Kepala Departemen Bisnis Support Pegadaian Kanwil XI Semarang, Tyas Ari Hidayat, mengatakan dalam periode 1 hingga 6 Maret 2026 tercatat penambahan volume investasi emas sekitar 5,7 kilogram melalui produk cicil emas dan tabungan emas.
“Dalam enam hari pertama bulan Maret, tercatat penambahan volume investasi emas sekitar 5,7 kilogram di wilayah Jateng dan DIY. Ini menjadi indikator kuat bahwa minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat,” ujarnya.
Menurut Tyas, peningkatan transaksi tersebut menjadi sinyal positif terhadap pertumbuhan investor emas ritel di wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Di sisi lain, PT Pegadaian juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya investasi emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.
Deputy Operasional Pegadaian Kanwil XI Semarang, Ali Mustaat, menyebut emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang relatif stabil untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
“Emas merupakan instrumen lindung nilai yang relatif stabil. Walaupun bukan investasi yang memberikan keuntungan instan, emas mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Untuk memperluas jangkauan investor, Pegadaian juga mendorong pemanfaatan layanan digital melalui aplikasi Tring yang memungkinkan masyarakat mulai berinvestasi emas dengan nominal terjangkau.
“Melalui platform digital kami, masyarakat bisa menabung emas mulai dari Rp10 ribu. Hal ini membuka akses investasi yang lebih inklusif, terutama bagi generasi muda,” tambah Ali.
Momentum Ramadan juga dimanfaatkan Pegadaian untuk memperkuat literasi investasi melalui program “Ramadan Bareng Tring” yang digelar di berbagai kota, termasuk di Pakuwon Mall Yogyakarta pada 7–8 Maret 2026.
Pegadaian optimistis tren positif investasi emas di wilayah Jawa Tengah dan DIY akan terus berlanjut, terutama menjelang momentum Ramadan hingga Idul Fitri yang biasanya diikuti peningkatan aktivitas transaksi masyarakat. ***








