Jateng Masuk Provinsi Penyumbang Tertinggi Buta Aksara

  • Bagikan
Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, dalam Bincang Pendidikan secara virtual, Sabtu (4/9/2021) di Jakarta soal buta aksara. FOTO: Kemendikbudristek/Lingkar.co
Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, dalam Bincang Pendidikan secara virtual, Sabtu (4/9/2021) di Jakarta soal buta aksara. FOTO: Kemendikbudristek/Lingkar.co

JAKARTA, Lingkar.co – Kemendikbudristek mengungkapkan bahwa pada 2020 ada 2.961.060 orang di Indonesia yang masih buta aksara.

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, mengatakan jumlah itu berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020.

Namun, kata dia, ada penuruan jumlah ketimbang 2019 yang sebanyak 3.081.136 orang.

“Persentase buta aksara tahun 2019 sebanyak 1,78 persen atau 3.081.136 orang, dan pada tahun 2020 turun menjadi 1,71 persen, atau menjadi 2.961.060 orang,” ujarnya, mengutip dari siaran pers Kemendikbudristek, Selasa (7/9/2021).

Jumeri mengatakan, angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

Baca Juga:

Pandemi Tak Jadi Alasan Bagi Siswa SD Birul Walidain Torehkan Prestasi

Hal itu seiring dengan terlaksananya berbagai strategi yang inovatif dan sinergi berbagai pemangku kepentingan.

Saat ini kata dia, banyak provinsi yang masih butuh perjuangan keras untuk melawan buta aksara.

Kemendikbudristek, kata Jumeri, memberikan perhatian khusus kepada daerah yang angka persentase buta hurufnya di atas rata-rata persentase nasional.

Ia pun merinci daerah-daerah dengan angka persentase di atas rata-rata nasional, antara lain: Papua (22,03%), Nusa Tenggara Barat (7,52%)

Kemudian, Sulawesi Barat (4,46%), Nusa Tenggara Timur (4,24%), Sulawesi Selatan (4,11%), dan Kalimantan Barat (3,54%)

Selanjutnya, Jawa Timur (3,21%). Sulawesi Tenggara (2,47%), Jawa Tengah (2,03%), dan Papua Barat (1,77%).

Jumeri mengatakan, Jatim dan Jateng masuk penyumbang jumlah penduduk buta aksara tertinggi, karena dua wilayah tersebut memiliki jumlah penduduk yang banyak.

“Dua provinsi ini adalah provinsi dengan penduduk yang terbesar di negeri ini sehingga memang masih cukup tinggi jumlah yang buta aksara,” jelasnya.

Jumeri mengatakan, kelompok umur 44 sampai dengan 59 tahun memiliki persentase buta aksara lebih tinggi ketimbang kelompok umur lainnya.

“Persentase buta aksara perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Yakni persentase laki-laki yang buta huruf 2,7 persen dan perempuan 5,6 persen,” ucapnya.

PERCEPATAN PENUNTASAN BUTA AKSARA

Sebelumnya, pada Bincang Pendidikan secara virtual, Sabtu (4/9/2021), Jumeri menjelaskan beberapa langkah strategis sebagai upaya percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia.

Penerapan langkah strategis mampu mendorong percepatan penuntasan buta aksara, dengan capaian angka melek aksara untuk usia 15-59 tahun di atas 98 persen.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Samto, mengakui upaya penurunan angka buta aksara menghadapi berbagai tantangan

Salah satu tantangan, kata dia, adalah tidak efektifnya pembelajaran pada masa pandemi.

“Oleh karena itu, nanti kita akan coba tekankan program untuk wilayah yang tinggi tingkat kebutaaksaraannya,” ucapnya.

“Semua anggaran kita fokuskan untuk memberantas buta aksara di lima wilayah terendah. Jika di lima wilayah tersebut buta aksaranya rendah maka akan meningkatkan angka melek aksara secara agregat,” sambungnya.

GERAKAN LITERASI DIGITAL

Pada sisi lain, Samto menjelaskan, gerakan literasi digital sudah mulai dikembangkan secara daring pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sejak 2017.

“Bagi para pengajar kesetaraan dengan koneksi internet yang baik, mereka sudah melakukannya,” ucapnya.

Tercatat, lebih dari 270 ribu peserta didik kesetaraan sudah menggunakan sistem daring.

Bahkan pada masa pandemi, Samto memperkirakan jumlahnya makin meningkat.

“Inilah terobosan bagi pendidikan kesetaraan,” ungkapnya.

Samto mengatakan, pihaknya juga memberi bantuan peralatan digital untuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM) setiap tahun, agar bisa memberikan layanan secara digital.

“Sekarang lebih dari 300 PKBM yang memiliki TBM berbasis digital,” pungkasnya.

PERINGATAN HARI AKSARA INTERNASIONAL

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-56 tahun 2021 mengambil tema “Literacy for a human-centred recovery: Narrowing the digital divide”.

Pada peringatan HAI tahun ini, Kemendikbudristek mengangkat tema “Digital Literacy for Indonesia Recovery”.

”Dengan tema ini, kami berharap program pendidikan keaksaraan dapat menjadi lebih adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, khususnya berkenaan dengan pergeseran paradigma pembelajaran,” ujar Jumeri.

Penyelenggaran peringatan HAI, sebagai wujud komitmen Indonesia dalam pengentasan buta aksara dan melaksanakan komitmen internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Puncak peringatan ke-56 HAI, akan diselenggarakan pada Rabu (8/9/2021), melalui webinar dan disiarkan secara langsung melalui sosial media Kemdikbudristek, TV Edukasi, dan media sosial Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus.

Webinar akan dihadiri oleh Mendikbudristek, perwakilan UNESCO Paris dan Jakarta, serta para pelaku pendidikan keaksaraan dan literasi masyarakat.

”Melalui puncak peringatan Hari Aksara Internasional, kita perkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota dalam penuntasan buta aksara,” pungkas Jumeri.*

Penulis : M. Rain Daling

Editor : M. Rain Daling

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!