Lingkar.co – Puluhan anak lintas agama dan kepercayaan di Kota Semarang mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) edisi 5 di Desa Wisata Srumbung, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026).
Mereka berusia 10-13 tahun, dengan latar belakang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan, juga dari berbagai sekolah. Mereka belajar sejarah dan nilai-nilai luhur ajaran kerohanian Sapta Darma dengan interaktif, reflektif, dan menyenangkan.
Semai merupakan program pendidikan keberagaman yang digagas oleh EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk saling mengenal, belajar bersama, dan membangun empati dalam keberagaman sejak usia dini.
Program ini menyasar anak-anak pada usia transisi, ketika cara pandang tentang benar atau salah, kami dan mereka mulai terbentuk secara kuat.
“Kami percaya, tidak ada anak yang terlahir membawa prasangka. Prasangka itu dipelajari, dan karena ia dipelajari, ia juga bisa dilepaskan,” ujar Direktur Eksekutif EIN Institute, Ellen Nugroho.
Ia menjelaskan, mereka tidak perlu memendam persangkaan karena bisa dengan bebas bertanya secara langsung dalam program Semai.
“Lewat Semai, anak-anak kami ajak berjumpa langsung, belajar dari sumbernya, dan membangun empati terhadap kelompok yang selama ini jarang dikenalkan, bahkan kerap distigmatisasi,” ujar Ellen.
Pada edisi kelima ini, anak-anak diajak mengenal Sapta Darma, ajaran kerohanian asli Nusantara yang lahir pada 1952 dan telah diakui negara.
Meski demikian, komunitas penghayat kepercayaan masih kerap menghadapi perilaku salah paham dan perlakuan diskriminatif dalam kehidupan sosial.
“Belajar tentang Sapta Darma bukan hanya mengenal satu ajaran, tetapi juga belajar menghargai cara-cara manusia Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Koordinator Pelita, Setyawan Budy.
“Pengalaman perjumpaan ini akan menumbuhkan kepekaan sosial dan sikap inklusif yang kuat pada anak-anak,” sambungnya.
Kegiatan diawali dengan sesi storytelling sejarah Sapta Darma yang dilanjutkan dengan penyusunan linimasa secara berkelompok.
Anak-anak kemudian menjelajah delapan pos pembelajaran yang membahas Wewarah Pitu dan Sesanti nilai moral utama dalam ajaran Sapta Darma serta mendiskusikan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang siang, para peserta menaiki odong-odong menuju Sanggar Candi Busana Blater, tempat ibadah penghayat Sapta Darma. Di sana mereka belajar tentang simbol, memahami tata cara ibadah, dan praktik sujud yang menjadi ciri khas ajaran tersebut.
Ketua IKHRAR Rayon Semarang, Br. Heri Irianto, FIC, menekankan pentingnya pendidikan keberagaman berbasis pengalaman langsung.
“Anak-anak ini kelak akan hidup di masyarakat yang majemuk. Jika sejak kecil mereka dibiasakan berjumpa dan bersahabat dalam perbedaan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh, beriman, dan mampu hidup damai bersama siapa pun,” ujarnya.
Tuan rumah kegiatan menyambut perjumpaan ini sebagai ruang dialog yang bermakna. Ketua Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati) Jawa Tengah, Dwi Setiyani Utami, menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan para peserta.
“Kami bersyukur anak-anak datang dengan hati terbuka dan rasa ingin tahu. Semoga perjumpaan ini menumbuhkan saling pengertian bahwa meski jalan spiritual berbeda, nilai luhurnya sama-sama mengajarkan kebajikan,” ujarnya.
Kesan positif juga dirasakan para peserta. Debora Abigail (10), peserta beragama Kristen, mengaku senang bisa belajar langsung dari penghayat Sapta Darma.
“Aku baru tahu kalau Sapta Darma mengajarkan jujur dan berbuat baik. Aku juga senang punya teman baru yang agamanya beda-beda,” katanya.
Sementara itu, Nareshwara Kenzie Kaharsayan (11), peserta dari agama Islam, mengatakan pengalamannya membuka wawasan baru.
“Awalnya aku belum paham Sapta Darma itu apa. Ternyata isinya mengajarkan jujur, sabar, dan menghormati orang lain. Jadi walaupun cara ibadahnya beda, ajarannya bagus,” ujarnya.
Semai edisi 5 melanjutkan rangkaian kegiatan Semai yang telah berlangsung sejak 2018, sebelumnya digelar di Klenteng Tay Kak Sie, Pura Agung Giri Natha, Vihara Tanah Putih, hingga Susteran Gedangan.
Dengan semangat “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”, program ini terus menanamkan benih perdamaian sejak usia dini di Kota Semarang. (*)
Penulis: Husni Muso








