Lingkar.co – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Pati tidak hanya merendam ribuan hektare lahan pertanian, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi para petani. Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati mencatat sekitar 7.355 hektare sawah di 15 kecamatan mengalami kerusakan berat dan terancam gagal panen. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
Sawah terdampak tersebar di Kecamatan Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Trangkil, Wedarijaksa, Pati, Juwana, Margorejo, Jakenan, Gabus, Kayen, Sukolilo, Gunungwungkal, Winong, dan Tlogowungu. Kondisi ini membuat banyak petani kehilangan potensi pendapatan pada musim tanam kali ini.
Kepala Dispertan Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah penanganan untuk meringankan beban petani. Dispertan akan mengajukan bantuan gagal panen (puso) ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta mempercepat pencairan asuransi pertanian.
“Ada sekitar 7355 hektare di 15 kecamatan dan saat ini berproses untuk pengajuan asuransi maupun bantuan Puso,” sebut Ratri Wijayanto selaku Kepala Dispertan Kabupaten Pati belum lama ini.
Selain bantuan puso dan asuransi, Dispertan juga berencana mengajukan bantuan benih ke Kementerian Pertanian agar petani dapat segera kembali menanam setelah banjir surut. Langkah ini sekaligus untuk menjaga keberlangsungan program ketahanan pangan daerah.
“Kita juga ajukan bantuan benih ke kementerian. Kerugian sekitar Rp300 miliar,” lanjutnya.
Meski menghadapi kerugian besar, Dispertan berharap dengan dukungan pemerintah pusat dan sinergi lintas stakeholder, sektor pertanian Pati bisa segera pulih. Target produktivitas satu hektare 10 ton pun tetap diupayakan tercapai pada musim tanam berikutnya. (*)








