Kesembuhan Meningkat, BOR Menurun, Pemkot Semarang Tutup 3 Tempat Isolasi Terpusat.

  • Bagikan
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, M Abdul Hakam, FOTO: Dinda Rahmasari Tunggal Sukma/Lingkar.co
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, M Abdul Hakam, FOTO: Dinda Rahmasari Tunggal Sukma/Lingkar.co

SEMARANG, Lingkar.co – Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, M Abdul Hakam, mengatakan kondisi wilayahnya berangsur membaik dari Covid-19.

Hal tersebut, berdasarkan grafik kesembuhan pasien Covid-19 yang meningkat hingga 94 persen.

Sementara keterisian pasien Covid-19 rumah sakit maupun tempat isolasi terpusat juga menurun hingga angka 30 persen.

Sementara angka terkonfirmasi positif Covid-19, kata Hakam, per 6 Agustus 2021 sebanyak 509 orang.

Dengan melihat grafik tersebut, ia berharap Kota Semarang bisa turun ke level 3, dari yang saat ini level 4.

“Semarang Raya angkanya juga sudah turun. Kalau bisa dipertahankan, mudah-mudahan bisa level 3. Kalau level 3 mall sudah boleh beroperasi,” ujar Hakam.

Sehubungan dengan kondisi semakin membaik, Pemkot Semarang, juga menutup tiga tempat isolasi terpusat.

Ketiga tempat itu, yakni Asrama UIN Walisongo, Islamic Center, dan Asrama Wonolopo.

Hakam mengatakan, dengan penutupan ketiga tempat isolasi itu, pihaknya mengganti dengan kapasitas yang lebih kecil di LPMP Jateng.

“Dari tiga tempat yang tutup itu kapasitasnya 360. Kita ganti di LPMP yang kapasitasnya 200 BOR,” ujarya.

“Jadi untuk tempat isolasi ada 600 BOR. Rinciannya, 200 di Rumah Dinas Wali Kota, 200 LPMP Jawa Tengah, 100 di Balai Diklat Kota Semarang, dan 100 di Miracle Health Center,” jelasnya lagi.

Baca Juga:
Wagub Jateng: Animo Masyarakat untuk Vaksin Semakin Tinggi

INI IMBAUAN BAGI WARGA YANG ISOMAN

Hakam pun mengimbau, kepada pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah untuk berpindah ke tempat isolasi terpusat.

Hal itu bertujuan agar pasien bisa mendapatkan evaluasi dan pengobatan yang maksimal. Sehingga jika kondisinya mengalami penurunan, bisa segera dirujuk ke rumah sakit.

“Artinya untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan angka kematian,” ujarnya.

Imbauan ini merujuk pada banyaknya pasien Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri dirumah beberapa waktu yang lalu.

Ia mengatakan kondisi itu terjadi lantaran ada keterlambatan saat membawa pasien ke rumah sakit. Selain itu, juga tidak ada pengawasan saat melakukan isoman.

“Kami kalau tidak ad info dari puskesmas pasti tidak tahu kalau ada pasien terkonfirmasi positif pada wilayah itu. Tapi tidak semua pemeriksaan juga melalui puskesmas,” ujarnya.

Sekali lagi, Hakam mengimbau, kepada warga yang terpapar Covid-19 agar melakukan isolasi di tempat karantina.*

Penulis : Dinda Rahmasari Tunggal Sukma

Editor : M. Rain Daling

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: