Ketegangan Timur Tengah Guncang Bursa Asia, BEI Ingatkan Investor Tak Panik

Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau para investor untuk tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan investasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Imbauan itu disampaikan menyusul memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang turut menekan pergerakan pasar saham global, termasuk di kawasan Asia dan Indonesia.

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey kepada awak media di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia menekankan bahwa kondisi pasar yang bergejolak menuntut investor untuk lebih cermat dalam menyusun strategi. Penyesuaian portofolio perlu dilakukan sesuai dengan profil dan toleransi risiko masing-masing.

“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor,” tambahnya.

Pada perdagangan Senin pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 23,95 poin atau turun 0,29 persen ke level 8.211,31. Tekanan juga terjadi di sejumlah bursa Asia. Bursa Kuwait bahkan sempat menghentikan sementara aktivitas perdagangan, sementara pasar saham Uni Emirat Arab (UEA) ditutup pada Senin (2/3/2026) dan Selasa (3/3/2026).

Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk kompleks militer serta fasilitas yang diduga berkaitan dengan program rudal dan nuklir Teheran dalam operasi bertajuk Operation Epic Fury.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, hingga Uni Emirat Arab.

Ketegangan tersebut juga berdampak pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang menjadi rute vital distribusi sekitar 20–25 persen minyak mentah dan LNG dunia setiap hari. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global, mengganggu rantai pasok, serta meningkatkan biaya asuransi pengiriman.

Penulis: Putri Septiana

Editor: Miftah