Kiat Efektif Detoks Digital untuk Kurangi Ketergantungan Ponsel

Ilustrasi - Anak Kecanduan Gadget. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Paparan ponsel berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memperburuk kondisi mental. Fenomena seperti doomscrolling, kebiasaan tanpa sadar mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus, dinilai menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kecemasan hingga gangguan suasana hati.

Asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Naomi Dambreville, menjelaskan bahwa banyak orang menggunakan ponsel untuk mencari informasi, namun justru berakhir merasa lebih buruk.

“Ini memengaruhi perhatian, suasana hati, harga diri, dan bisa memicu iritabilitas, kecemasan, atau kemarahan,” ujarnya, dikutip dari New York Post.

Ia menambahkan, paparan berita negatif kerap muncul bahkan tanpa dicari. Kondisi ini menciptakan siklus berulang: suasana hati memburuk, lalu mendorong seseorang untuk terus menggulir layar, yang akhirnya semakin memperparah perasaan.

Data menunjukkan hampir setengah warga Amerika merasa kecanduan ponsel, dengan frekuensi mengecek perangkat hingga ratusan kali per hari. Menurut Dambreville, kecanduan tidak hanya berkaitan dengan zat, tetapi juga perilaku, termasuk penggunaan ponsel secara kompulsif dan kehilangan kendali.

Tanda Ketergantungan Ponsel

• Beberapa indikasi seseorang mulai terlalu bergantung pada ponsel antara lain:

• Aktivitas sehari-hari selalu berpusat pada layar

• Respons instan terhadap setiap notifikasi

• Rasa takut ketinggalan (FOMO) saat offline

• Gangguan fisik seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, hingga nyeri pada tangan

Kiat Efektif Detoks Digital

Untuk mengatasi ketergantungan tersebut, Dambreville menyarankan sejumlah langkah detoks digital yang dapat diterapkan secara bertahap:

1. Kenali pola penggunaan
Mulai dengan memantau durasi dan frekuensi penggunaan ponsel setiap hari. Kesadaran ini penting untuk menentukan perubahan yang diperlukan.

2. Buat rencana konkret
Tuliskan target yang spesifik dan realistis. Misalnya, membatasi penggunaan media sosial hanya 30 menit per sesi dengan bantuan pengatur waktu.

3. Kurangi secara bertahap
Detoks tidak harus ekstrem. Pengurangan perlahan justru lebih efektif dan berkelanjutan dibanding berhenti total secara mendadak.

4. Ganti dengan aktivitas positif
Alihkan waktu layar ke kegiatan lain seperti membaca, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan orang sekitar.

5. Siapkan diri menghadapi efek samping
Detoks digital dapat memicu rasa bosan, cemas, atau dorongan kuat untuk kembali menggunakan ponsel. Namun kondisi ini bersifat sementara dan akan berkurang seiring waktu.

Menurut Dambreville, mengurangi waktu layar secara aktif dapat membantu meningkatkan fokus, kontrol diri, hingga kemampuan sosial.

“Kamu bisa menentukan sendiri bentuk detoks yang sesuai,” katanya. (*)