Lingkar.co — Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, M. Ali Wafa, menegaskan pentingnya merawat tradisi, sejarah, dan nilai spiritual para wali dalam kehidupan masyarakat Jawa masa kini. Hal itu ia sampaikan saat memberikan sambutan pada Kirap Lurup, yang menjadi bagian dari rangkaian Haul Akbar ke-466 Sunan Prawoto, Senin (5/1/2026).
Kirap Lurup tersebut diikuti unsur Keraton Surakarta Hadiningrat, para pemangku makam auliya’, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat. Prosesi dimulai dari Balai Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, dan berakhir di Makam Sunan Prawoto.
Dalam sambutannya, Gus Wafa, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa Kirap Lurup bukan sekadar prosesi budaya, melainkan laku spiritual dan penghormatan sejarah atas perjuangan para wali yang telah menanamkan Islam yang ramah dan membumi di tanah Jawa.
“Kirap Lurup ini adalah simbol bahwa agama, budaya, dan sejarah berjalan beriringan. Di dalamnya ada adab, penghormatan kepada leluhur, serta upaya menjaga warisan spiritual para wali,” ujarnya.
Gus Wafa juga mengulas jejak sejarah Sunan Prawoto yang dikenal sebagai putra Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak. Dalam perjalanan sejarah, Sunan Prawoto pernah menjadi Sultan Demak keempat di tengah konflik politik yang keras. Namun, menurutnya, Sunan Prawoto justru memilih jalan dakwah, kesalehan, dan pengabdian kepada umat, dibandingkan mengejar kekuasaan.
“Yang patut kita teladani, beliau mendahulukan ilmu dan akhlak di atas kekuasaan, tetap teguh dalam iman saat menghadapi ujian, serta berdakwah dengan cara yang santun dan menyatu dengan budaya,” kata Gus Wafa.
Ia menambahkan, wilayah Prawoto dan Sukolilo hingga kini diyakini sebagai pusat pengembaraan spiritual dan dakwah Sunan Prawoto. Nilai-nilai Islam yang damai dan meneduhkan yang diwariskan dari kawasan ini masih terus hidup di tengah masyarakat.
Sebagai wakil rakyat di tingkat provinsi, Ali Wafa menilai tradisi haul dan kirap budaya seperti ini merupakan warisan peradaban yang sangat penting untuk terus dijaga. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga menanamkan karakter, kebijaksanaan, dan persatuan bagi generasi muda.
“Semoga kirap ini membawa keberkahan, keselamatan, dan ketenteraman bagi Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dan seluruh umat. Kita semua memiliki tanggung jawab melanjutkan nilai-nilai perjuangan para wali sesuai dengan zamannya, tanpa kehilangan akar sejarah,” pungkasnya. (*)








