“Humor adalah alat kritik paling cerdas. Ia emosional, estetik, sekaligus intelektual. Ia membuat kritik terasa ringan, tetapi justru lebih tajam,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kualitas humor mencerminkan kualitas intelektual pembuatnya, sementara respons penguasa terhadap humor mencerminkan kualitas demokrasi itu sendiri.
“Pilihan humor merepresentasikan kecerdasan komika. Respons kekuasaan terhadap humor membuktikan kedewasaan negara,” ujarnya.
Ujian Demokrasi
Bagi Rahmat, kontroversi Mens Rea bukan sekadar polemik antara komika dan politisi, melainkan ujian tentang seberapa dewasa publik dan negara dalam menghadapi kritik.
Jika humor dibungkam, lanjutnya, itu bukan hanya persoalan seni, melainkan pertanda menyempitnya ruang demokrasi.
“Tawa adalah bahasa paling aman untuk mengatakan yang paling berbahaya. Ketika tawa pun dianggap ancaman, itu tanda demokrasi sedang tidak baik-baik saja,” pungkasnya. (*)
Penulis: Husni Muso







