Kontingen Jateng Tak Temui Pengprov Pertina Papua, Ini Yang Sebenarnya Terjadi

  • Bagikan
Ilustrasi: Wagub Jateng Saat Melihat Pertandingan PON XX Papua,Tim H2/Lingkar.co
Ilustrasi: Wagub Jateng Saat Melihat Pertandingan PON XX Papua,Lingkar.co

JAYAPURA,Lingkar.co – Pengurus Provinsi Pertina Papua berencana bakal melayangkan gugatan ke Badan Arbritasi Olahraga Indonesia (BAORI)

Gugatan itu lantaran partai final Cabor Tinju Nomor kelas 81-91 ternilai ada unsur kecurangan yang merugikan Papua.

Baca Juga: PON XX Papua Sukses, 56 Rekor Baru Tercatat

Ketua Pengprov Papua Ricky Ham Pagawak (RHP) mengatakan, pihaknya telah menggelar pertemuan untuk mencari solusi penyelesaian, namun dari pihak lawan tidak merespon.

“Saya dan Pak Rumasukun langung mendatangi penginapan Pemda Jateng. Ternyata yang ada Wagub Jateng, tapi ia tak bersedia untuk menerima kami,” kata Ricky yang lingkar.co kutip dari Tribun Papua Jumat (15/10/2021)

“Berarti kami menilai kasus ini ada dalam satu sistem yang telah diatur, untuk mengalahkan kami, khusus di cabor tinju,”ujarnya.

Sementara itu, Ketua Harian Pertina Papua Rahmad Koko Marimbun mengatakan, jika masalah ini tak segera putuskan, maka pihaknya akan mengadukan ke Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) untuk mencari keadilan.

Pernyataan Wagub Jateng

Terpisah, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengklarifikasi terkait pemberitaan di media massa yang menyebut ia tidak mau menemui ketua Pengprov Pertina Papua.

Taj Yasin mengaku tidak dapat melihat pertandingan tinju yang mulai, pada hari Rabu (13/10/2021) tersebut karena sedang mengunjungi Kampung Arso, Kabupaten Keerom, untuk mengikuti Maulid Nabi.

“Saat pertandingan tinju itu, saya sedang perjalanan ke Arso, menghadiri acara Maulid Nabi. Di sana sampai hotel sekitar pukul 01.30 WIT dinihari. Dan tidak ada yang konfirmasi ke saya terkait pertemuan itu,” kata Taj Yasin, Jumat (15/10/2021).

Kemudian pada hari Kamis (14/10/2021), Taj Yasin melihat pertandingan Karate serta melakukan silaturahim dengan beberapa tokoh agama di Papua.

“Hari Kamis, kami lihat pertandingan Karate, dan menjenguk salah satu atlet yang mengalami cedera pada hidungnya. Kemudian, kami lanjutkan bersilaturahim dengan PWNU Papua, MUI Papua, serta Takmir Masjid Raya Papua. Di situ kami berdiskusi terkait rencana pemberian bantuan ke Masjid Raya Papua. Malamnya kami ke Ponpes Nurul Anwar, Sentani untuk perayaan Maulid Nabi. Pagi ini, baca berita kok begini,” tambah dia.

Lebih jauh, Taj Yasin menjelaskan sudah mengetahui adanya kabar kericuhan dalam Partai final yang berlangsung di GOR Cenderawasih. Namun, ia enggan berkomentar lantaran kurang memahami duduk permasalahannya.

“Saya juga tidak ingin nantinya malah bisa memperkeruh persoalan yang sudah terjadi. Makanya, saya diam saja dan memperhatikan masalah tersebut,” jelasnya.

erkait hasil pertandingan, Taj Yasin menyerahkan semuanya kepada panitia PON XX Papua. Menurutnya, persoalan ini menjadi ranah dan kewenangan panitia. Sehingga, hal tersebut tidak bisa diintervensi oleh pemerintah daerah.

Meski demikian, dia mengaku sangat terbuka apabila ada diskusi mengenai hasil pertandingan tersebut.

“Panitia ini kan bekerja secara profesional. Sehingga pemda tidak bisa mengintervensi jalannya pertandingan. Namun kami terbuka kalau ada diskusi soal ini,” tutup dia.

Kronologi Permasalahan Cabor Tinju

Sebelumnya, pada pertandingan final tinju kelas berat di GOR Cenderawasih antara atlet Papua, Kevin K. Amanupunjo melawan atlet Jawa Tengah, Willis Boy Riripoy, berakhir ricuh.

Kericuhan bermula pada ronde ketiga pertandingan saat Wilis mengalami cedera setelah mendapat pukulan dari Erico di bagian pelipis. Diketahui bahwa pelipis Wilis robek. Wasit, Royke Waney, kemudian menghentikan pertandingan dan meminta dokter ring untuk memeriksa luka Wilis.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter yang memeriksa Wilis memberikan kode agar pertandingan dihentikan. Namun, wasit Royke mengangkat tangan Willis sebagai pemenang. Hal itu lantas membuat kubu Papua tak terima hingga berbuntut kericuhan.

Penulis: Rezanda Akbar D.

Editor: Muhammad Nurseha

  • Bagikan