Berita  

Masjid Jami Gelar Halaqah Pegiat Turats Nusantara

Arwani Thomafi sebagai keynote speaker dalam acara Halaqah Pegiat Turats Nusantara di Masjid Jami Lasem, Minggu (20/11/2022)/LINGKAR.CO/Akid Aunulhaq
Arwani Thomafi sebagai keynote speaker dalam acara Halaqah Pegiat Turats Nusantara di Masjid Jami Lasem, Minggu (20/11/2022)/LINGKAR.CO/Akid Aunulhaq

Lasem, Lingkar.co – Museum Islam Nusantara Masjid Jami Lasem menggelar halaqah turats nusantara, Minggu (20/11/2022). Acara tadi malam itu menghadirkan para pegiat dari Jawa-Madura.

Halaqah tadi malam untuk mengkaji turats atau peninggalan ulama terdahulu. Yang difokuskan pada peninggalan ulama nusantara.

Gus Nanal Ainal Fauz, penulis kitab Tsabat Al Indonisyi, sebuah karya berbahasa arab yang mendokumentasikan seribu kitab ulama Indonesia dan ditulis oleh lebih dari 90 ulama itu dihadirkan menjadi pembicara.

Selain itu, juga ada Lora Utsman Hasan, Ketua lajnah Turats Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, yang telah menerbidkan lima kitab karya Syaikhona Kholil Bangkalan.

Moderator halaqah Abdullah Hamid menyampaikan, pihaknya mengundang para stake holder tirats. Mulai dari kalangan perguruan tinggi, perpustakaan, museum, hingga pondok pesantren.

Diharapkan bisa melestarikan atau mengembangkan tirats ulama nusantara masalampau.

”Kami menghadirkan tokoh muda pesantren. Dia telah menyusun kitab, menulis seribu kitab di Nusantara karya dari 90 Ulama Nusantara,” jelasnya.

Dari daftar undangan yang diterima Lingkar.co, ada lebih dari 50 pesantren yang diundang dalam acara halaqah tadi malam. Mulai pondok-pondok dari Rembang, Blora, hingga Jawa Timur. ”Mungkin sekitar 100 (peserta,Red),” imbuhnya.

Masjid Jami Gelar Halaqah Pegiat Turats Nusantara

Tujuannya, untuk silaturahmi para pegiat Turats se Jawa-Madura untuk bertukar pengalaman dan informasi.

Selain itu juga sebagai kerjasama pendidikan, penelitian, pengembangan, dan mendapatkan sejauh mana khazanah turats nusantaran.

Keterangan tertulis dari Museum Islam Nusantara Masjid Jami Lasem menjelaskan, turats ulama nusantara belakangan ini dinilai mengalami perkembangan.

Diantaranya, di Bangkalan Madura hadir Lajnah Turats Ilmi Syaikhona Kholil.

Di Rembang, Pesantren Sarang juga menerbitkan buku Sanad Thoriqat Nusantara dan belasan kitab karya KH Maimoen Zubair.

Selain itu, juga telah mendigitalisasi 15 manuskrip Ulama Sarang. ”Yang kami harapkan kegiatan Turats, tradisi ilmiah pesantren bangkit, terpelihara dari masa ke masa,” ujarnya.

Arwani Thomafi sebagai keynote speaker dalam pengantarnya memgatakan bahwa langkah dokumentasi turos adalah hal krusial yang harus dilakukan.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Aang ini, manuskrip atau naskah ulama-ulama terdahulu belum terdokumentasi dengan baik.

“Kitab-kita ulama ini belum terdokumentasi dengan baik. Jangankan oleh masyarakat, bahkan oleh para santri sendiri. Karena itu manuskrip berupa kitab-kitab ulama terdahulu maupun ulama sepuh perlu dibuat versi digital, agar bisa diakses oleh generasi sekarang,” kata Arwani.

Pihaknya meminta pemerintah, dalam hal ini Kemenag dan Kominfo untuk memfasilitasi digitalisasi ini.

“Kita perlu memberikan pesan kepada dunia Islam, bahwa Indonesia kaya akan hasanah keislaman yang bercirikan moderat dan ramah serta berdasarkan  Pancasila,” papar Arwani.

Penullis : Akid Aunulhaq

Editor : Muhammad Nurseha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *