Mengulik Peninggalan Tasripin, Konglomerat Pribumi Semarang pada Era Hindia-Belanda

  • Bagikan

SEMARANG, Lingkar.co – Pada awal abad ke-20, bertepatan dengan era Hindia-Belanda, hidup seorang konglomerat pribumi di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), bernama Tasripin.

Tasripin, lahir pada 1834 atau empat tahun setelah perang Jawa berakhir. Masa hidupnya sezaman dengan raja gula Semarang, Oei Tiang Ham.

Pada masa itu, Tasripin, mengembangkan bisnis pabrik kulit hewan ternak, pabrik kapas, kopra hingga properti.

Dari bisnisnya itu, Tasripin, mendulang kekayaan hingga menjadi pribumi kaya raya pada masanya.

Bahkan, untuk pengembangan bisnisnya, Tasripin, membeli sejumlah tanah dari orang-orang Belanda, kala itu.

Tanah dan rumah milik Tasripin, banyak tersebar di Kota Semarang, khususnya area Semarang bawah.

RUMAH-RUMAH TASRIPIN BERTEBARAN

Meski berumur puluhan tahun, rumah-rumah peninggalan Tasripin masih berdiri kokoh.

Rumah-rumah peninggalan Tasripin masih ada yang bercorak melayu, campuran arsitektur kolonial.

Wartawan Lingkar.co, Minggu (8/8/2021), berkesempatan mengunjungi salah satu rumah peninggalan Tasripin, di Kampung Kulitan.

Muhammad Fachri, generasi ke-6 Tasripin, menghuni rumah tersebut. Ia mengatakan, rumah warisan Tasripin memiliki luas kurang lebih 50 meter.

“Ciri khas bangunanya berupa tiga daun pintu pada beranda rumah, ujarnya.

Ia bercerita, kakek buyutnya itu, juga punya rumah dan tanah yang tersebar di Kota Semarang, seperti di Jalan Mataram, Jalan Pemuda, dan beberapa tempat lainnya.

Dari semua aset itu, kata dia, yang paling menonjol peninggalan Tasripin di Kampung Kulitan. Mayoritas rumah di kampung itu, masih milik Tasripin.

“Aset itu tidak semuanya terpakai oleh keturunannya. Ada juga yang disewakan, dijual, bahkan dihibahkan,” ujar Fachri.

Selain bangunan, sebut Fachri, kakek buyutnya juga meninggalkan dua peti wayang kulit beserta gamelannya.

Fachri bercerita, kakek buyutnya itu pernah memiliki kapal untuk mengekspor kulit. Kala itu, Jembatan Berok masih buka-tutup sehingga kapal bisa melintas.

Kekayaan Tasripin , kata dia, juga berasal dari bisnis rumah jagal di Kampung Bledug.

Salah satu pemanfaatan kulit hewan ternak adalah untuk pengembangan wayang kulit.

“Rata-rata keuntungan per bulannya kala itu antara 35 hingga 40 ribu gulden,” ujarnya.

Kampung Kulitan, Jalan MT Haryono, Semarang, menjadi bukti kejayaan Tasripin masa lampau.

BERDIRI KOKOH DI TENGAH KAWASAN BANJIR

Ada hal lain yang membuat kagum dari rumah peninggalan Tasripin. Berada pada kawasan banjir, namun tetap berdiri kokoh.

“Rumah berusia puluhan tahun masih tetap berdiri kokoh di kawasan yang sering banjir,” kata Fachri.

Menurut Fachri, karena bangunan rumah peninggalan Tasripin, menggunakan kayu jati.

“Saat itu Tasripin sudah paham tentang desain interior modern. Terbukti sampai sekarang ini,” ujarnya.

Selain itu, sebagai seorang muslim, Tasripin juga membangun langgar, sebagai tempat beribadah keluarga juga para pekerjanya.

Kala itu, sekira tahun 1825, Tasripin, membangun langgar kecil dengan bahan bangunan dari kayu jati.

Kini, langgar peninggalan Tasripin, telah mengalami pemugaran, dan berganti nama menjadi Masjid At-Taqwa, dengan bangunan dua lantai.

MAKNA FILOSOFI RUMAH TASRIPIN

Rumah peninggalan Tasripin, punya khas dengan tiga daun pintu pada beranda rumah, juga pintu masuk setelah ruang tamu.

Filosofi tiga pintu itu, bahwa Tasripin, selalu terbuka bagi siapa pun dan tidak membedakan golongan.

“Tasripin ingin selalu membaur dengan masyarakat,” ujarnya.

Kemudian, ciri khas pada rangka genting rumah yang berbentuk seperti pusara.

Fachri menjelaskan, filosofi dari desain itu, bahwa Tasripin, ingin menunjukan jika semasa hidup harus ingat kematian.

Terakhir, pintu rahasia yang menghubungkan rumah Tasripin, dengan gang sebelah.

“Mungkin itu untuk keamanan saja. Mengingat dulu Tasripin konglomerat, orang terpandang,” ujarnya.

KEJAYAAN TASRIPIN MEMUDAR

Fachri mengatakan, masa kejayaan moyangnya itu memudar tatkala meninggal dunia pada 1932.

Fachri menceritakan, selepas Tasripin meninggal, bisnisnya masih berlanjut oleh keturunannya. Walau memang popularitasnya tidak sekuat saat masa Tasripin.

“Sekitar 1950-an, sebuah badan usaha bernama Tasriepien Concern masih ada di Semarang,” cerita Fachri.

Menurut laporan koran Algemeen Handelsblad (26/10/1919), kekayaan Tasripin mencapai 45 juta gulden, dengan pemasukan rata-rata perbulannya antara 35 hingga 40 ribu gulden.***

Penulis : Dinda Rahmasari Tunggal Sukma

Editor : M. Rain Daling

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: