Mulai April 2026, Dinas Pendidikan Tetapkan TKA Jadi Pemetaan Akademik Siswa SD hingga SMP di Kota Pekalongan

Tes Kompetensi Akademik siswa SMP di Kota Pekalongan. Ilustrasi Foto: dokumentasi
Tes Kompetensi Akademik siswa SMP di Kota Pekalongan. Ilustrasi Foto: dokumentasi

Lingkar.co – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan Jawa Tengah mulai mengimplementasikan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai instrumen pemetaan kemampuan akademik siswa pada jenjang SD hingga SMP. Program ini resmi dilaksanakan mulai April 2026 dan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas pendidikan berbasis data di daerah.

Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, menjelaskan bahwa, pelaksanaan TKA di tahun pertama ini masih terbatas pada beberapa komponen mata pelajaran (mapel) yakni Matematika dan Bahasa Indonesia untuk jenjang SD dan SMP sederajat.

Sementara, untuk jenjang SMA sederajat lebih banyak yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan 2 mata pelajaran pilihan (misalnya Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, dll). Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan cakupan materi yang diujikan.

“Baru dua mapel saja yang Ini kan baru awal ya, baru tahun pertama untuk jenjang SD dan SMP sederajat yang menjadi kewenangan Dindik Kofa Pekalongan. Barangkali di tahun-tahun berikutnya ada penambahan mata pelajaran,” ujar Mabruri, Rabu (8/4/2026).

Lebih lanjut ia membeberkan, uji coba TKA telah dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan resmi. Meskipun masih terdapat sejumlah kendala teknis, secara umum proses berjalan dengan baik dan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan selanjutnya.

“TKA sudah beberapa kali uji coba ya, meskipun ada beberapa kendala-kendala. Tapi pelaksanaannya nanti tanggal 6, rentang waktunya 6 sampai 30 April,” jelasnya.

Pelaksanaan TKA dilakukan secara bertahap di masing-masing sekolah, mengingat keterbatasan sarana prasarana, khususnya perangkat komputer. Oleh karena itu, sekolah diberikan kewenangan untuk mengatur jadwal dan sesi pelaksanaan sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Karena keterbatasan perangkat, artinya komputer ya, maka jumlah peserta setiap angkatan dan pembagian sesi diatur oleh sekolah. Ada yang butuh waktu 4 hari, 6 hari, bahkan sampai 8 hari,” imbuhnya.

Lanjutnya, TKA diperuntukkan bagi siswa kelas akhir di setiap jenjang, yakni kelas VI SD dan kelas IX SMP. Sementara untuk jenjang SMA/sederajat, pelaksanaan TKA telah dilakukan lebih dahulu secara nasional.

“Iya, yang TKA ini kelas-kelas akhir. Jadi kelas 6, kelas 9, dan kelas 12 SMA sederajat. Kalau yang SMA sudah jauh-jauh hari kemarin,” terangnya.

Mabruri juga menegaskan bahwa TKA merupakan program yang dilaksanakan secara nasional dengan jadwal yang terintegrasi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, pelaksanaan TKA di Kota Pekalongan sejalan dengan kebijakan pusat.

“Kalau ini nasional ya. Jadi yang SD seluruh Indonesia jadwalnya sama, yang SMP juga sama,” katanya.

Lebih lanjut, Mabruri menekankan bahwa hasil TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Tes ini hanya dilakukan satu kali dan berfungsi sebagai alat ukur kemampuan akademik yang nantinya dapat dimanfaatkan dalam jalur Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya jalur prestasi.

“Karena ini tidak mempengaruhi kelulusan, berapapun nilainya ya sekali tes saja. Poinnya nanti hanya akan menguntungkan atau berkontribusi di jalur SPMB prestasi,” jelasnya.

Salah satu sekolah yang telah melaksanakan TKA adalah SMP Salafiyah Kota Pekalongan. Kepala SMP Salafiyah, Hj. Qurrotul Aini, S.Ag., menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik kebijakan ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Di sekolah tersebut, pelaksanaan TKA untuk siswa kelas IX berlangsung pada 6 hingga 9 April 2026 dengan jumlah peserta sebanyak 229 siswa.

“Dengan adanya Tes Kompetensi Akademik (TKA) ini, kami selaku Kepala SMP Salafiyah Kota Pekalongan menyambut baik sebagai langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami percaya bahwa melalui TKA, kemampuan akademik siswa dapat terpetakan dengan lebih jelas, sehingga guru dan sekolah dapat memberikan pembinaan yang lebih tepat sasaran,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh siswa untuk tidak menjadikan TKA sebagai beban, melainkan sebagai sarana untuk memotivasi diri dalam belajar dan mengembangkan potensi.

“Kami juga mengajak seluruh siswa untuk menjadikan TKA sebagai motivasi dalam belajar, bukan sebagai beban, melainkan sebagai sarana untuk mengukur dan mengembangkan potensi diri,” tambahnya.

Dengan penerapan TKA ini, pihaknya berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat terkait kemampuan akademik siswa.

“Data tersebut diharapkan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih tepat, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di setiap satuan pendidikan,” pungkasnya. (*)